Ramai-ramai kedatangan Bush ke Indonesia mengingatkan aku pada masa ketika KKN di sebuah kampung di pinggir pantai di kawasan Cipatujah, Tasikmalaya. Kampung ini penghasil pisang dan kayu albasia. Sayangnya, akses jalan ke pasar terhalang sungai yang besar. Tapi bukan soal pisang atau kayu yang akan aku ceritakan. Memang apa hubungannya pisang dan kayu albasia dengan Bush? Iya 'kan?
Alkisah, ...walah, kayak cerita misteri ... saya dan rombongan berkunjung ke salah satu penduduk. Hampir semua penduduk di kampung ini hidup di bawah garis kemiskinan. Rumahnya rata-rata beratapkan rumbia dan berdinding anyaman bambu. Beberapa memang sudah permanen dan bisa ditebak, pasti salah seorang anaknya sudah merantau. Entah ke Tasiknya atau malah lebih jauh seperti ke Bandung dan Jakarta. Tapi bukan soal rumah yang mau aku ceritakan. Memangnya Bush mau tinggal di rumah seperti itu?
Kedatangan kami untuk bertanya-tanya tentang kondisi masyarakat di situ. Biar kalau bikin program tidak salah sasaran kira-kira tujuan kami. Setelah tanya ini itu, kami sedikit mendengar kegaduhan dari ruang dalam. Namun karena yang fasih berbahasa Sunda hanya seorang, kami tidak mengerti apa yang diributkan. Yang jelas setelah agak lama "keributan" tadi mereda, keluarlah minuman bersoda dengan es batu. Wah, ini yang ditunggu-tunggu. O, ya kedatangan kami waktu itu memang agak siang sehingga panas agak mengganggu kami. Tentu dengan seteguk dua teguk minuman bersoda dingin akan meringankan penderitaan kami. Eh, jelas bukan soal kami menderita mengapa aku menulis ini berkaitan dengan kedatangan Paman Bush.
Inilah yang membuat kami agak sesak dada. Beruntung kami mengetahui hal ini tidak pas kejadian. Bisa-bisa tersedak. Kami pun baru ngeh dengan keributan yang terjadi waktu itu. Saking asyiknya dengan obrolan, kami tidak menyadari bahwa minuman bersoda plus es batu adalah sesuatu hal yang mencolok di rumah itu. Dan benar memang, untuk memperoleh "kemewahan" tadi, keluarga yang kami sambangi itu harus pontang-panting mengutang ke warung tetangga. Bahkan, salah seorang anggota keluarga belum pernah merasakan minuman tadi.
Terus, apa hubungannya dengan kedatangan Bush? Hehe ... saya juga tidak tahu sih. Cuma aku melihat pemerintah kita seperti keluarga yang kami sambangi itu. Bersusah payah menjamu tamu agar "gimana gitu" meski untuk itu harus rela berutang. Mereka takut jika disajikan makanan dan minuman yang mereka punya kami akan keracunan. Padahal, kami tidak disuguhi apa-apa pun tidak berkeberatan. Lo, tapi apa Bush tidak keberatan juga jika disambut dengan ala kadarnya? Maksudku tidak sampai harus ngoprak-oprak pedagang kaki lima di seputaran Pasar Anyar dengan dalih itu sudah program rutin. Padahal jelas-jelas PKL-nya bilang kadang-kadang saja mereka ditertibkan.
Ah, embuhlah. Yang jelas kadang kita terlalu menghormati tamu melebihi batas kemampuan kita.
No comments:
Post a Comment