Sebuah surat pembaca di Kompas beberapa waktu lalu mengritik kebijakan pemerintah soal pelajaran di Sekolah Dasar. Betapa anak-anak SD sekarang ini dijejali bermacam pelajaran dan melupakan hakikat anak-anak, bermain. Penulis juga membandingkan dengan sekolah dasar di Singapura yang mata pelajarannya hanya tiga macam: membaca, menulis, dan berhitung.
Mengamati mata pelajaran anak saya yang masih kelas 1 SD memang bikin saya geleng-geleng kepala. Sudah banyak, buku teksnya juga dicetak di atas kertas yang bagus. Berwarna pula! Boleh-boleh saja sih buku cetak bagus, tapi ya menurut saya kurang tepatlah. Selain harga jadi mahal, buku juga jadi tebal. Dengan tiga mata pelajaran tiap hari (kecuali Sabtu), saya selalu ngelus dada setiap membawakan tas anak saya. Saya yang dewasa saja merasa berat apalagi anak saya yang ceking begitu? Soalnya, selain buku teks masih ada buku tulis, masing-masing dua buah untuk setiap mata pelajaran. Plus satu buku tugas dan kadang-kadang buku ulangan.
Dengan banyaknya mata pelajaran, tentu banyak hapalan yang harus masuk ke kepala si anak. Sementara mereka masih mau main dengan teman macam sepakbola di gang atau main sendirian seperti play station. Ada sebagian orang tua yang bisa memaksa anaknya untuk rajin membuat PR atau belajar, namun banyak pula yang kewalahan. Alhasil, membuat PR atau belajar untuk mempersiapkan ulangan pun dilakukan dalam waktu yang seadanya.
Pagi tadi, saya menyaksikan sendiri, seorang anak usia SD belajar mata pelajaran ilmu pengetahuan saat dibonceng ayahnya dalam keberangkatan ke sekolah. Si anak asyik membolak-balik lembar demi lembar buku pelajaran tanpa memperhatikan sekitarnya. Saya terus membuntuti dan berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Lalu lintas pagi memang belum begitu ramai dan padat, tapi belajar di atas boncengan motor yang melaju tetaplah situasi yang membahayakan.
Jauh sebelumnya, dalam perjalanan mengantarkan anak saya sekolah, saya kembali membuntuti seorang Ibu yang menggandeng anaknya berjalan memasuki gang yang meghubungkan jalan raya dengan sekolah si anak. Dari jauh tidak ada yang aneh dengan pemandangan itu, seorang Ibu menggandeng anaknya dengan backpack menggantung di punggung si anak.
Namun setelah mendekat, ada yang aneh menurut saya. Sambil berjalan, si Ibu memegang buku pelajaran dan menanyakan isi buku ke anaknya. Si anak pun menjawab pertanyaan dengan lancar. Ternyata si Ibu sedang mengetes anaknya tentang pelajaran yang akan diulangkan pada hari itu. Beruntung mereka berjalan di gang yang relatif sepi dan cukup mulus jalannya. Coba kalau gang itu ramai oleh lalu lalang motor atau jalannya tidak mulus, bisa-bisa si anak bukannya hapal soal pelajaran tapi malah celaka karena keserempet motor atau terantuk batu.
Persaingan generasi mendatang memang sepertinya terasa keras. Di lain pihak banyak orang tua yang cemas tidak bisa memberi bekal yang cukup bagi buah hatinya. Maka, belajar pun dilakukan di mana saja. Asal masih ada waktu dan tenaga.
Lima menit bukanlah berarti sebuah waktu. Ini hanyalah kiasan saya untuk menyampaikan hal-hal di seputaran saya yang menurut saya bisa direnungkan.
Tuesday, September 19, 2006
Friday, September 15, 2006
Hati-hati menjual komputer bekas Anda!
Apakah Anda sudah merasa aman ketika menghapus semua data-data penting dan pribadi yang ada di cakram keras komputer Anda saat mau menjualnya? Jika ya, simaklah pengalaman Louis dan Eric ini. Di Indonesia jamak sekali orang menjual komputer bekasnya. Seperti yang ditawarkan seseorang di sebuh milis.
Louis (51), seperti ditulis harian Singapura thesundaytimes, menjual komputer bekasnya karena sudah tidak membutuhkannya. Ia tidak berpikiran sama sekali soal password-password situs di Internet, pesan-pesan surat elektronik yang dikirimkan ke istrinya, juga resume dia akan bisa "digali dari kuburnya". Soalnya ia sudah mendeletenya dari keranjang sampah komputer. Begitu juga dengan Erik (39), seorang teknisi, yang menjual PC-nya tidak menyangka bahwa ia akhirnya ketahuan sebagai orang yang gemar mengakses situs porno.
Menggunakan perangkat lunak yang tepat - lusinan dari itu bisa ditemukan di Internet dengan harga cukup murah - file-file penting dan rahasia yang sepertinya sudah dimusnahkan itu bisa diambil kembali. Inilah yang mesti kita pahami: menghapus data sesungguhnya tidaklah mengenyahkannya, ia hanya tidak bisa dilihat saja.
Yang bikin Louis terperangah, data yang dihapus beberapa tahun silam bisa dimunculkan kembali. "Sebagai pengguna rumahan, saya tidak mengetahui bahwa hal-hal semacam itu bisa dilakukan. Saya pikir ketika saya menghapus file dan kemudian mengosongkan keranjang sampah (Recycle bin), file tadi sudah benar-benar hilang," ujar Louis.
Managing Director CBL Data Recovery Technologies, Samuel David (38), menjelaskan, data tidaklah benar-benar hilang ketika Anda menghapusnya atau bahkan memformat ulang cakram keras Anda. Ia menceritakan pengalamannya saat membeli 17 cakram keras yang sudah "didaur ulang" dari Nigeria. Ketika dilacak bisa ketahuan bahwa pemiliknya sekarang tinggal di Inggris dari file-file yang "dibangkitkan" kembali tadi. "Sesungguhnya setiap orang bisa melakukan hal ini sebab perangkat lunaknya sudah ada," imbuh David.
Cheong Boon Leong (40), seorang insinyur yang bekerja di perusahaan data recovery sependapat dengan David. Keduanya pun menyarankan untuk menghancurkan data-data tersebut hanya ada dua cara: mengunduh perangkat lunak yang bisa melakukan hal itu (mereka menyebutnya wipe), atau merusakkan fisik cakram padat tadi.
Terserah, Anda mau pilih mana.
Louis (51), seperti ditulis harian Singapura thesundaytimes, menjual komputer bekasnya karena sudah tidak membutuhkannya. Ia tidak berpikiran sama sekali soal password-password situs di Internet, pesan-pesan surat elektronik yang dikirimkan ke istrinya, juga resume dia akan bisa "digali dari kuburnya". Soalnya ia sudah mendeletenya dari keranjang sampah komputer. Begitu juga dengan Erik (39), seorang teknisi, yang menjual PC-nya tidak menyangka bahwa ia akhirnya ketahuan sebagai orang yang gemar mengakses situs porno.
Menggunakan perangkat lunak yang tepat - lusinan dari itu bisa ditemukan di Internet dengan harga cukup murah - file-file penting dan rahasia yang sepertinya sudah dimusnahkan itu bisa diambil kembali. Inilah yang mesti kita pahami: menghapus data sesungguhnya tidaklah mengenyahkannya, ia hanya tidak bisa dilihat saja.
Yang bikin Louis terperangah, data yang dihapus beberapa tahun silam bisa dimunculkan kembali. "Sebagai pengguna rumahan, saya tidak mengetahui bahwa hal-hal semacam itu bisa dilakukan. Saya pikir ketika saya menghapus file dan kemudian mengosongkan keranjang sampah (Recycle bin), file tadi sudah benar-benar hilang," ujar Louis.
Managing Director CBL Data Recovery Technologies, Samuel David (38), menjelaskan, data tidaklah benar-benar hilang ketika Anda menghapusnya atau bahkan memformat ulang cakram keras Anda. Ia menceritakan pengalamannya saat membeli 17 cakram keras yang sudah "didaur ulang" dari Nigeria. Ketika dilacak bisa ketahuan bahwa pemiliknya sekarang tinggal di Inggris dari file-file yang "dibangkitkan" kembali tadi. "Sesungguhnya setiap orang bisa melakukan hal ini sebab perangkat lunaknya sudah ada," imbuh David.
Cheong Boon Leong (40), seorang insinyur yang bekerja di perusahaan data recovery sependapat dengan David. Keduanya pun menyarankan untuk menghancurkan data-data tersebut hanya ada dua cara: mengunduh perangkat lunak yang bisa melakukan hal itu (mereka menyebutnya wipe), atau merusakkan fisik cakram padat tadi.
Terserah, Anda mau pilih mana.
Subscribe to:
Posts (Atom)