Friday, December 29, 2006

Belum Haji Sudah Mabrur

Cerita ini saya ambil dari milis alumni asrama saya. Selamat Idul Adha bagi yang merayakannya.

Salam,

===

Belum Haji Sudah Mabrur

Oleh: Ahmad Tohari

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.

Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta.

Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Sejak itu pula saya melihat Yu Timah memakai cincin emas.

Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

''Pak, saya mau mengambil tabungan,'' kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

''O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?''

''Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa-gesa kok.''

''Mau ambil berapa?'' tanya saya.

''Enam ratus ribu, Pak.''

''Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?''

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu. ''Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.''

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

''Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?''

''Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.''

''Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.''

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga.

Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

Tuesday, November 14, 2006

Repotnya Jadi Orang Miskin

Ramai-ramai kedatangan Bush ke Indonesia mengingatkan aku pada masa ketika KKN di sebuah kampung di pinggir pantai di kawasan Cipatujah, Tasikmalaya. Kampung ini penghasil pisang dan kayu albasia. Sayangnya, akses jalan ke pasar terhalang sungai yang besar. Tapi bukan soal pisang atau kayu yang akan aku ceritakan. Memang apa hubungannya pisang dan kayu albasia dengan Bush? Iya 'kan?

Alkisah, ...walah, kayak cerita misteri ... saya dan rombongan berkunjung ke salah satu penduduk. Hampir semua penduduk di kampung ini hidup di bawah garis kemiskinan. Rumahnya rata-rata beratapkan rumbia dan berdinding anyaman bambu. Beberapa memang sudah permanen dan bisa ditebak, pasti salah seorang anaknya sudah merantau. Entah ke Tasiknya atau malah lebih jauh seperti ke Bandung dan Jakarta. Tapi bukan soal rumah yang mau aku ceritakan. Memangnya Bush mau tinggal di rumah seperti itu?

Kedatangan kami untuk bertanya-tanya tentang kondisi masyarakat di situ. Biar kalau bikin program tidak salah sasaran kira-kira tujuan kami. Setelah tanya ini itu, kami sedikit mendengar kegaduhan dari ruang dalam. Namun karena yang fasih berbahasa Sunda hanya seorang, kami tidak mengerti apa yang diributkan. Yang jelas setelah agak lama "keributan" tadi mereda, keluarlah minuman bersoda dengan es batu. Wah, ini yang ditunggu-tunggu. O, ya kedatangan kami waktu itu memang agak siang sehingga panas agak mengganggu kami. Tentu dengan seteguk dua teguk minuman bersoda dingin akan meringankan penderitaan kami. Eh, jelas bukan soal kami menderita mengapa aku menulis ini berkaitan dengan kedatangan Paman Bush.

Inilah yang membuat kami agak sesak dada. Beruntung kami mengetahui hal ini tidak pas kejadian. Bisa-bisa tersedak. Kami pun baru ngeh dengan keributan yang terjadi waktu itu. Saking asyiknya dengan obrolan, kami tidak menyadari bahwa minuman bersoda plus es batu adalah sesuatu hal yang mencolok di rumah itu. Dan benar memang, untuk memperoleh "kemewahan" tadi, keluarga yang kami sambangi itu harus pontang-panting mengutang ke warung tetangga. Bahkan, salah seorang anggota keluarga belum pernah merasakan minuman tadi.

Terus, apa hubungannya dengan kedatangan Bush? Hehe ... saya juga tidak tahu sih. Cuma aku melihat pemerintah kita seperti keluarga yang kami sambangi itu. Bersusah payah menjamu tamu agar "gimana gitu" meski untuk itu harus rela berutang. Mereka takut jika disajikan makanan dan minuman yang mereka punya kami akan keracunan. Padahal, kami tidak disuguhi apa-apa pun tidak berkeberatan. Lo, tapi apa Bush tidak keberatan juga jika disambut dengan ala kadarnya? Maksudku tidak sampai harus ngoprak-oprak pedagang kaki lima di seputaran Pasar Anyar dengan dalih itu sudah program rutin. Padahal jelas-jelas PKL-nya bilang kadang-kadang saja mereka ditertibkan.

Ah, embuhlah. Yang jelas kadang kita terlalu menghormati tamu melebihi batas kemampuan kita.

Tuesday, November 07, 2006

Terlena kenyamanan

Komputer server kena virus! Begitulah kabar yang aku terima. Virus kali ini agak aneh karena hanya menyerang OS Windows 2000, baik yang server atau pro. Karena untuk keperluan upload artikel aku menggunakan Win 2000 server, maka komputerku pun tak lepas dari serangan virus yang belum diketahui identitasnya itu. Setelah terjangkiti virus ini, komputer sering merestart setiap selang beberapa waktu. Program FTP juga dilumpuhkan. Begitu juga dengan MS Word kehilangan fungsi paste. Pokoknya sengsara banget deh!

Hari pertama terserang, saat tanya bagian TI belum jelas apa jenis virusnya. Yang jelas antivirus Symantec tidak berdaya. Virus semakin menyebar sebab ia memancarulangkan melalui jaringan. Akhirnya dengan terpaksa aku mencoba bertahan sebisa mungkin melawan virus. Namun baru mengetik sebentar tiba-tiba muncul peringatan bahwa komputer akan mati setelah sekian detik. Langsung saja saya Save naskah yang sudah terketik sambil menunggu PC restart. Cukup sehari saya sudah tidak kuat. Akhirnya dengan menyesal PC saya dikarantina, tidak boleh masuk jaringan.

Di sinilah awal penderitaan saya. Sudah tercerabut dari jaringan, virus belum bisa dienyahkan lagi. Telepon ke bagian TI baru dapat jawaban, virusnya berjenis Trojan. Antivirus sudah hampir ketemu, tapi belum bisa 100% menyehatkan komputer. Sudah dicoba di beberapa komputer malah terkadang menghapus file penting. Terpaksa aku mencuri-curi kesempatan ke komputer yang nganggur. Terus terang cara ini tidak efektif. Apalagi pekerjaan di kantor sudah menggunakan Intranet sehingga akses ke jaringan adalah mutlak.

Saya baru menyadari bahwa selama ini terlena oleh kenyamanan. Saya lupa untuk membuat file-file cadangan setiap naskah atau artikel yang sedang saya kerjakan. Di saat begini saya tidak leluasa melakukan pekerjaan saya. Padahal saya membutuhkan keterikatan yang kuat terhadap apa yang saya lakukan. Memang, dengan Intranet lebih cepat kerjanya dan tidak perlu mengedarkan disket jika mau disunting. Tapi dalam kondisi jaringan terserang virus dan tidak semua komputer di jaringan kena, maka saya seperti ayam masuk kurungan. Tidak bisa leluasa berkokok.

Akhirnya virus bisa dibersihkan, tapi tak lama. Sebab ternyata virus tersebut bisa malih rupa. Masih berupa trojan juga, tapi menyerang file lain. Kali ini berakibat komputer akan restart terus menerus. Sekarang komputerku benar-benar lumpuh. Jalan keluarnya adalah install ulang atau menunggu antivirus baru. Ya sudah, aku pilih install ulang sambil berharap ada antivirus baru yang lebih joss.

Setelah penantian dan merelakan komputer diobok-obok, akhirnya antivirus baru itu ketemu. Huh ... leganya bisa bekerja dengan normal. Sekarang tinggal mengingat-ingat kejadian ini untuk selalu menyimpan cadangan pekerjaan di hard disk komputerku. Tidak mengandalkan data di jaringan!

20-11-2006
Komputerku pulih bersamaan Bush datang ke Bogor

Tuesday, October 24, 2006

Ada uang Rp. 1.000,-?

Anda sering menerima pertanyaan seperti itu saat berbelanja di supermarket atau warung lainnya? Apa reaksi Anda? Mengiyakan tanpa protes?

Kejadian seperti itu lazimnya terjadi manakala belanjaan kita memiliki kembalian yang tanggung. Pihak toko ingin mengembalikah kembalian tadi dalam nominal yang genap dan bukan recehan. Nomun untuk itu kita harus menambah sedikit uang.

Misalnya total belanjaan kita Rp 61.000,- dan kita menyodorkan uang Rp 100.000,-. Kembalian kita tentunya Rp 39.000,-. Pihak penjual mungkin sayang mengeluarkan recehan Rp 1.000,- sebanyak empat lembar dan minta kita menambah Rp 1.000,- sehingga ia bisa membayar uang kembalian kita cukup dengan uang dua lembar Rp 20.000,-. Tentu penjual burkepentingan dengan uang recehan tadi.

Awalnya saya cuek saja dan kalau ada sejumlah uang yang diminta ya saya kasih. Kalau ada tapi saya butuh sering saya harus berbohong sebab pernah punya pengalaman tidak mengenakkan soal itu. Cuma belakangan ini saya akan menolak memberi meski ada uang sejumlah yang diminta. Malah terkadang saya iseng nyletuk, "Jualan kok gak niat. Recehan saja gak siap."

Mengapa saya jadi ketus begitu? Saya melihat penjual mau gampangnya saja. Kedua, sang kasir sering asal minta tanpa rasa bersalah atau minta maaf. Ketiga, saya sudah melakukan kewajiban dan tidak ada himbauan atau kata-kata untuk membayar dengan uang pas. Jadi, sudah tugas sang penjuallah harus kerepotan menyediakan uang recehan. Dari mana asal recehan itu bukan urusanku.

Selama ini saya salut dengan warung padang yang selalu siap dengan kembalian recehan. Yah, meski recehah terkecil mereka mungkin Rp 500,- tapi saya sering diminta recehan serupa di minimarket yang bertebaran di komplek perumahan.

Satu hal lagi, saya pernah terkesan dengan ucapan sang kasir. Entah di mana lokasinya, saya lupa soal itu. Waktu itu ia dengan tersenyum meminta maaf merepotkan saya untuk menarik kembali dompet yang sudah saya masukkan ke kantung. Saya pun rela mengeluarkan dua lembar uang seribuan (saya selalu menyimpan beberapa recehan seribuan di dompet).

Bisa jadi saya bawel, oleh sebab itu maafkan saya. Mumpung Lebaran he...he....

Friday, October 13, 2006

Maaf, Mahal atau Susah?

Pagi ini aku jadi teringat dengan Kiky, temenku di klub DTC. Gara-gara simeta (silver metalik taruna)-ku tersenggol motor yang mau nyelip tapi maksa keluarlah sumpah serapah. Untung, aku tidak puasa sehingga berbeda kondisi dengan Kiky yang kemudian merasa bahwa puasanya telah gagal setengah. (Emangnya bisa ya batal cuma setengah hehe... Maaf ya Ky, cuma komentar saja kok).

Tapi yang bikin kesal dan dongkol adalah si pengendara cuek saja meski sudah tak teriaki. Tanpa rasa bersalah ia melaju dengan kencangnya. Andai bisa kukejar jelas akan aku kejar dan aku pepet. Bukan persoalan kerusakan atau baret di mobil. Tapi ini sudah menyangkut perilaku! Apa salahnya menoleh dan senyum atau mengangkat tangan buat permintaan maaf?

Terus terang, saya sendiri juga sering menggunakan motor. Kejadian menyenggol mobil pun pernah menimpaku. Namun aku mencoba berhenti dan senyum atau bahasa tubuh yang menandakan perasaan bersalah. Meski terkadang ngeri juga sebab siapa tahu malah dijadikan sasaran kemarahan. Namun aku berpikiran bahwa apa yang diawali dengan niat baik pasti hasilnya baik.

Saya bukannya mau sok sopan atau apalah sebutannya. Cuma hanya ingin berusaha menata kehidupan pada rel yang benar. Ikut arus dalam hal ini bukanlah tipeku. Ketika lampu masih menyala merah, aku keukeuh memarkir si kilmer (kilat merah alias red thunder) di belakang garis stop. Masa bodoh dengan klakson bertubi-tubi dari angkot di belakangku. Bahkan ia mengajak berkonfrontasi dengan menyundul-nyundulkan bemper bututnya ke bagian belakang motorku. Aku hanya menoleh dan si sopir pura-pura tidak tahu. Tapi aku pernah kesal dan motor kumatikan. Si sopir aku datangi. Dia cuma diam seribu bahasa. Apalagi terucap kata "maaf".

Sejujurnya, saya sebenarnya takut juga melakukan hal itu. Saya sadar si sopir ingin mencari rit sebanyak-banyaknya. Ia menghitung waktu yang terbuang berarti setoran berkurang. Namun apakah kemudian menihilkan peraturan yang dimaksudkan untuk menjaga keselamatan orang banyak?

Kata "maaf" sekarang ini sudah semakin mahal. Atau susah? Entahlah!

Tuesday, October 10, 2006

Truk/Bus Gunakan Lajur Kiri

Akhir-akhir ini setiap masuk pintu tol Cawang di depan Carefour MT Haryono saya memperhatikan ada mobil patroli PJR parkir di bahu jalan dan seorang polisi berdiri di belakang mobil sambil membawa papan bertuliskan (kira-kira, soalnya tadi mau motret situasi jalan tidak memungkinkan) "TRUK/BUS GUNAKAN LAJUR KIRI". Saya melihat dari sebelum masuk sampai jembatan layang Pancoran sebelah patung Dirgantara ada sekitar tiga plang imbauan seperti itu.

Saya tidak tahu apakah efektif cara seperti itu. Setidaknya ini sudah cara kedua yang saya lihat. Sebelumnya mobil patroli jalan di lajur paling kiri dan ada runnung text di kabin belakang mobil patroli. Isinya juga imbauan bagi truk dan bus untuk menggunakan lajur kiri. Terkadang mobil patroli ber-running text ini mangkal di pojokan sebelum pintu masuk gerbang tol.

Namun bagaimana kenyataannya?

Tadi pagi saya masih melihat truk melaju di lajur tengah dengan tenangnya. Bahkan, truk yang penuh muatan dan sepertinya kelelahan menapaki tanjakan ke arah Serpong/Tangerang di daerah Tomang membuat kemacetan dengan sampai di samping Slipi Jaya. Dari barisan itu banyakan truk dan mobil boks. Entah kemacetan akan sepanjang apa sebab saya melewati jalan itu sekitar pukul 07.20. Masih pagi dan jalanan sepi sebab sebelumnya saya bisa memacu kendaraan sampai 120 kpj. (Uppsss.... maaf Pak Polisi, bukan maksud saya mau ngebut, tapi cuma sekadar membuang kerak di ruang bahan bakar hehe....).

Aturan truk atau bus berjalan di lajur kiri sebenarnya sudah banyak. Tulisan itu ada di jalan lajur kiri serta plang di atas jalan tol. Akan tetapi sepertinya aturan-aturan tertulis itu hanyalah hiasan belaka. Terlebih bagi bus umum. Slogannya adalah maju terus pantang berhenti. Jadi kalau untuk dapat maju harus ambil lajur paling kanan atau bahkan bahu jalan, ya diembat.

Saya tidak tahu apakah sopir itu tidak paham atau tidak mau tahu. Yang penting setoran masuk! Saya sendiri yakin mereka memperoleh SIM dengan cara tidak wajar. Sebab jika memperoleh SIM dengan benar tentu akan ada hal-hal standar yang masuk dalam memorinya. Ini seperti yang saya alami beberapa tahun lalu saat mengikuti ujian SIM di Bandung. Dari penjelasan sebelum ujian tertulis saya jadi bisa membedakan arti garis panjang dan garis putus-putus yang ada di jalan raya. Begitu juga jika ada polisi mengatur di perempatan lalu lintas, maka lampu lalu lintas otomatis tidak berfungsi. Lalu jika ada perempatan jalan dengan salah satu jalan dilintasi kereta api, maka saat kereta api lewat maka pengendara yang melintas sejajar rel kereta api boleh jalan terus meski lampu lalu lintas sedang menyala merah. Masih banyak hal lain yang saya peroleh dari ujian tertulis itu.

Jika semua pengendara sadar aturan dan rambu, saya yakin Pak Polisi tadi tak perlu berpanas-panas ria memegang plang hanya untuk meneriakkan aturan yang sayangnya hilang tertelan ramainya lalu lalang kendaraan.

Mari, kita mulai dari sekarang, dari kita sendiri.

Monday, October 02, 2006

Tuhan Sembilan Senti

Oleh: Taufiq Ismail (diambil dari salah satu milis yang tak ikuti)

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Sunday, October 01, 2006

Mau Kemana 3G?

Belum lama ini layanan 3G diluncurkan oleh Telkomsel. Menyusul kemudian XL pada esok hari, 22-9-2006. Meski sudah dipersiapkan cukup lama, namun di sana-sini masih ada kendala. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah masyarakat kita sudah benar-benar membutuhkannya?

Seperti yang terjadi pada teman saya, sebut saja Yani. Sekretaris sebuah perusahaan ternama ini pada akhir tahun 2005 ingin ganti telepon. Tanya sana-tanya sini akhirnya ia memutuskan membeli Nokia 6680 yang sudah 3g enabled. Kata yang memberi saran sih, paling tidak bisa bertahan lama. Apalagi waktu itu juga sedang hangat-hangatnya pembicaraan soal 3G. Soal harga, tentu masih tinggi waktu itu. Saat ini saja, 24/9/2006, di studiohp.com masih Rp 3 jutaan. Cuma, dia bilang sih pakai Eazy Pay.

Ketika akhirnya Telkomsel meluncurkan layanan 3G-nya setelah mendapat Uji Laik Operasi (ULO), ramai-ramai 3G dimulai. Tapi saya melihat Windi anteng-anteng saja. Bisa jadi karena bukan termasuk maniak gadget meski sering gonta-ganti ponsel. Atau karena operator yang dia pakai – XL - belum meluncurkan layanan serupa?

Perhatiannya mulai terusik ketika melihat iklan XL yang ber-tagline Are You Ready. Mulailah ia bertanya-tanya dan minta disettingkan ponselnya. Setelah bisa mengakses wap.xl.co.id, Yani pun keranjingan ber-3G. “Mumpung masih promosi,” begitu kilahnya. Bagi Yani, harga adalah hal sensitif. Sayang, untuk bervideo call ia tidak bisa sesuka-sukanya, sebab tidak semua orang yang ditelepon ponselnya sudah ber-3G. “Tapi kadang kagok saya. Apalagi kalau mandi, hehe….”

Harga memang menjadi persoalan serius dalam layanan 3G ini. Pengalaman di luar negeri bisa menjadi contoh, betapa layanan 3G ini hanyalah mercu suar saja. Vodafone misalnya. Seperti tertulis di Koran Tempo, untuk membeli lisensi dan membangun jaringan 3G sejak tahun 2000 telah habis uang sekitar Rp 309 triliun. Sampai Maret kemarin, pemasukannya baru Rp 4,75 triliun. Itu masih kotor, dan setelah dipangkas di sana-sini, keuntungan bersihnya Cuma Rp 721 miliar. Andai tidak ada terobosan, balik modalnya Vodafone butuh 107 tahun!

Padahal, tidak kurang apa yang ditawarkan 3G. Kata kuncinya adalah kecepatan data, sehingga ponsel tidak sekadar menjadi alat telepon. Ia bisa menjadi televisi, buku dengan mengunduh e-book, atau komputer untuk berselancar di rimba Internet. Memang, layar sangat kecil dan gambar masih patah-patah. Ini yang membuat Yani berpikir ulang apakah ia masih mau melihat Fashion TV kesayangan manakala masa promosi dari XL habis. Meski cepat, kadang tidak masuk akal jika diukur dengan uang.

Ambil contoh layanan unduh lagu di Australia, sebuah lagu berformat MP3 setara dengan Rp 200 ribu. Nah, jika ia mau repot sedikit dengan datang ke toko kaset, uang segitu bisa dapat dua atau tiga CD berisi puluhan lagu. Bukannya cuma dapat satu. Di Indonesia, misalkan mengunduh lagu Samsons dari situs portal 3G-nya XL sebesar 4 megabita dengan tarif promo Rp 10/kb, jatuhnya Rp 40.000,-. Harga segini sudah bisa memperoleh satu CD berisi sekitar enam lagu, bukannya Cuma dapat satu lagu. Apalagi produk bajakan di sini marak, bahkan sudah banyak yang jemput bola alias pembeli tidak perlu repot-repot beranjak dari tempatnya. Dalam hal ini, apa kelebihan 3G?

Wajar saja jika Telefonica ingin menarik kembali uang yang disetor kepada pemerintah Jerman untuk pembelian lisensi 3G karena perusahaan telekomunikasi asal Spanyol ini membatalkan rencana program 3G-nya. Atau perusahaan telekomunikasi asal Jerman, Debitel, merasa bersyukur kalah dalam lelang tender 3G. Dalam soal lelang ini, yang beruntung bagaimanapun tetap pemerintah masing-masing negara yang melelang lisensi 3G. Seperti pemerintah Inggris yang pundi-pundi kas negaranya bertambah Rp 386 triliun, atau Jerman yang Rp 418 triliun.

Mau tidak mau operator harus kreatif menawarkan isi layanan yang akan dihantar ke pelanggan dengan harga yang kompetitif. XL yang dalam gebrakan pertamanya langsung menggelar layanan 3G di enam kota sekaligus, juga menawarkan kecepatan 2,6 mbps melalui teknologi High Speed Downlink Packet Access (HSDPA) atau teknologi 3,5 G.

Operator penggelar layanan 3G harus mampu memposisikan diri sebagai operator yang berbeda dengan operator yang tidak menggelar layanan 3G. Misalnya saja dengan 3G orang bisa memantau rumahnya saat ia mudik ke kampung halamannya. Seorang Ibu tidak perlu khawatir dengan anaknya yang ditinggal di rumah bersama pengasuhnya. Atau Paijo tak perlu menggerutu ketinggalan acara favoritnya, balap MotoGP, saat ia harus menemani istrinya berbelanja di supermarket. Yang penting, layanan itu tidak rumit. Sukur-sukur semudah SMS!

Patut diacungi jempol adalah langkah yang diambil operator CDMA Mobile-8. meski tidak mengantongi lisensi 3G, namun koneksi operator ini sudah lumayan di atas General Packet Radio Service (GPRS) yang diusung oleh operator-operator GSM. Melalui kerja sama dengan Mobile-8, berbagai sekolah menengah kejuruan di P Jawa dapat mengakses portal Dikmenjur secara gratis. Begitu juga dengan mahasiswa Universitas Jember dapat mengakses portal universitas mereka dengan gratis.

Bisa jadi Yani akan melirik tawaran seperti itu sebab tentu akan sangat membantu baginya yang sedang mengambil kuliah ekstensi di sebuah universitas negeri di Jakarta. Ia selalu membayangkan bahwa untuk kuliah ia tidak harus hadir secara fisik. Selain memakan waktu juga biaya! “Kalau dengan 3G biayanya setara, saya tentu memilih ini,” katanya.

Yah, bola kalau begitu ada di operator dong!

Tuesday, September 19, 2006

Belajar Bisa Di Mana Saja

Sebuah surat pembaca di Kompas beberapa waktu lalu mengritik kebijakan pemerintah soal pelajaran di Sekolah Dasar. Betapa anak-anak SD sekarang ini dijejali bermacam pelajaran dan melupakan hakikat anak-anak, bermain. Penulis juga membandingkan dengan sekolah dasar di Singapura yang mata pelajarannya hanya tiga macam: membaca, menulis, dan berhitung.

Mengamati mata pelajaran anak saya yang masih kelas 1 SD memang bikin saya geleng-geleng kepala. Sudah banyak, buku teksnya juga dicetak di atas kertas yang bagus. Berwarna pula! Boleh-boleh saja sih buku cetak bagus, tapi ya menurut saya kurang tepatlah. Selain harga jadi mahal, buku juga jadi tebal. Dengan tiga mata pelajaran tiap hari (kecuali Sabtu), saya selalu ngelus dada setiap membawakan tas anak saya. Saya yang dewasa saja merasa berat apalagi anak saya yang ceking begitu? Soalnya, selain buku teks masih ada buku tulis, masing-masing dua buah untuk setiap mata pelajaran. Plus satu buku tugas dan kadang-kadang buku ulangan.

Dengan banyaknya mata pelajaran, tentu banyak hapalan yang harus masuk ke kepala si anak. Sementara mereka masih mau main dengan teman macam sepakbola di gang atau main sendirian seperti play station. Ada sebagian orang tua yang bisa memaksa anaknya untuk rajin membuat PR atau belajar, namun banyak pula yang kewalahan. Alhasil, membuat PR atau belajar untuk mempersiapkan ulangan pun dilakukan dalam waktu yang seadanya.

Pagi tadi, saya menyaksikan sendiri, seorang anak usia SD belajar mata pelajaran ilmu pengetahuan saat dibonceng ayahnya dalam keberangkatan ke sekolah. Si anak asyik membolak-balik lembar demi lembar buku pelajaran tanpa memperhatikan sekitarnya. Saya terus membuntuti dan berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Lalu lintas pagi memang belum begitu ramai dan padat, tapi belajar di atas boncengan motor yang melaju tetaplah situasi yang membahayakan.

Jauh sebelumnya, dalam perjalanan mengantarkan anak saya sekolah, saya kembali membuntuti seorang Ibu yang menggandeng anaknya berjalan memasuki gang yang meghubungkan jalan raya dengan sekolah si anak. Dari jauh tidak ada yang aneh dengan pemandangan itu, seorang Ibu menggandeng anaknya dengan backpack menggantung di punggung si anak.

Namun setelah mendekat, ada yang aneh menurut saya. Sambil berjalan, si Ibu memegang buku pelajaran dan menanyakan isi buku ke anaknya. Si anak pun menjawab pertanyaan dengan lancar. Ternyata si Ibu sedang mengetes anaknya tentang pelajaran yang akan diulangkan pada hari itu. Beruntung mereka berjalan di gang yang relatif sepi dan cukup mulus jalannya. Coba kalau gang itu ramai oleh lalu lalang motor atau jalannya tidak mulus, bisa-bisa si anak bukannya hapal soal pelajaran tapi malah celaka karena keserempet motor atau terantuk batu.

Persaingan generasi mendatang memang sepertinya terasa keras. Di lain pihak banyak orang tua yang cemas tidak bisa memberi bekal yang cukup bagi buah hatinya. Maka, belajar pun dilakukan di mana saja. Asal masih ada waktu dan tenaga.

Friday, September 15, 2006

Hati-hati menjual komputer bekas Anda!

Apakah Anda sudah merasa aman ketika menghapus semua data-data penting dan pribadi yang ada di cakram keras komputer Anda saat mau menjualnya? Jika ya, simaklah pengalaman Louis dan Eric ini. Di Indonesia jamak sekali orang menjual komputer bekasnya. Seperti yang ditawarkan seseorang di sebuh milis.

Louis (51), seperti ditulis harian Singapura thesundaytimes, menjual komputer bekasnya karena sudah tidak membutuhkannya. Ia tidak berpikiran sama sekali soal password-password situs di Internet, pesan-pesan surat elektronik yang dikirimkan ke istrinya, juga resume dia akan bisa "digali dari kuburnya". Soalnya ia sudah mendeletenya dari keranjang sampah komputer. Begitu juga dengan Erik (39), seorang teknisi, yang menjual PC-nya tidak menyangka bahwa ia akhirnya ketahuan sebagai orang yang gemar mengakses situs porno.

Menggunakan perangkat lunak yang tepat - lusinan dari itu bisa ditemukan di Internet dengan harga cukup murah - file-file penting dan rahasia yang sepertinya sudah dimusnahkan itu bisa diambil kembali. Inilah yang mesti kita pahami: menghapus data sesungguhnya tidaklah mengenyahkannya, ia hanya tidak bisa dilihat saja.

Yang bikin Louis terperangah, data yang dihapus beberapa tahun silam bisa dimunculkan kembali. "Sebagai pengguna rumahan, saya tidak mengetahui bahwa hal-hal semacam itu bisa dilakukan. Saya pikir ketika saya menghapus file dan kemudian mengosongkan keranjang sampah (Recycle bin), file tadi sudah benar-benar hilang," ujar Louis.

Managing Director CBL Data Recovery Technologies, Samuel David (38), menjelaskan, data tidaklah benar-benar hilang ketika Anda menghapusnya atau bahkan memformat ulang cakram keras Anda. Ia menceritakan pengalamannya saat membeli 17 cakram keras yang sudah "didaur ulang" dari Nigeria. Ketika dilacak bisa ketahuan bahwa pemiliknya sekarang tinggal di Inggris dari file-file yang "dibangkitkan" kembali tadi. "Sesungguhnya setiap orang bisa melakukan hal ini sebab perangkat lunaknya sudah ada," imbuh David.

Cheong Boon Leong (40), seorang insinyur yang bekerja di perusahaan data recovery sependapat dengan David. Keduanya pun menyarankan untuk menghancurkan data-data tersebut hanya ada dua cara: mengunduh perangkat lunak yang bisa melakukan hal itu (mereka menyebutnya wipe), atau merusakkan fisik cakram padat tadi.

Terserah, Anda mau pilih mana.

Wednesday, August 23, 2006

Busway oh bus wae

Empat koridor jalur khusus bus mulai dibangun serentak dan direncanakan selesai akhir tahun ini, 2006. Disebutkan pula armada yang akan melayani sebanyak 203 bus. Ya, kita doakan saja semoga terlaksana sebagaimana adanya. Jangan seperti koridor-koridor sebelumnya yang ternyata armadanya kurang. Namun bukan soal armada yang menjadi perhatianku.

Pembangunan koridor bus way yang dikebut serentak membuat kemacetan parah di sepanjang koridor dan malah merembet ke jalur-jalur sekitarnya. Seperti yang terjadi di koridor Kp. Melayu - Kp. Rambutan. Sewaktu membaca rencana ada koridor ini aku mengernyitkan dahi. Memang mau lewat Jl. Raya Bogor? Kalau Cililitan ke Kampung Melayu jalannya lebar, tapi kalau Cililitan - Kampung Rambutan tidak ada jalur yang lebar. Yang terlebar ya Jl. Raya Bogor yang empat jalur untuk dua arah. Terlebih di depan Pasar Kramatjati dan Pasar Induk sudah menjadi legenda kemacetan di daerah ini. Nah, jika nanti dibangun busway, apa kemacetan tidak menjadi kronis?

Benarlah, seminggu ini Jl. Condet Raya macet parah setelah Jl. Kramatjati diobok-obok buat jalur khusus bus itu. Kemacetan itu terus merembet ke jalan-jalan tikus yang bisa tembus ke Cililitan. Bisa dimaklumi sebab Jl. Kramatjati yang dulunya dua jalur menjadi satu jalur apalagi jalan ini dilalui banyak trayek angkutan umum. Beberapa angkot sudah mulai menghindarinya dan memilih Jl. Condet Raya yang sebelumnya juga memiliki beberapa titik kemacetan seperti di perempatan Jl. Olahraga dan Jl. Gardu.

Aku merasakan betul perubahan itu sebab setiap pagi harus mengantar anakku yang sekolah di daerah Cililitan. Biasanya jika menggunakan mobil maka titik kemacetan hanya ada di perempatan Jl. Olahraga dan itu tidaklah panjang. Paling sekitar 100-an m. Semenjak Jl. Kramatjati dibangun jalur busway, terkadang mau keluar dari Jl. Gardu saja sudah terasa aroma kemacetannya. Kemacetan bertambah parah mulai pertigaan Jl. Munggang arah ke Cililitan.

Yah, mudah-mudahan bus way cepat beroperasi meski saya tidak tahu apakah nanti bertambah lancar daerah Kramatjati atau malahan berubah menjadi tempat parkir.

Monday, August 14, 2006

Beress Yang Tak Beres

Ini untuk kedua kalinya saya mengalami hal tidak mengenakkan berkenaan dengan servis
 rutin kendaraan saya, Thunder 125.  Yang pertama sudah agak lupa, tapi tempat servis adalah Beress Suzuki Dewi Sartika. Sehabis servis tidak masalah. Namun dua hari kemudian baru ada
yang aneh dengan motor itu. Setangnya agak bengkok, tidak lurus.  Berhubung tidak
paham permotoran saya pun balik ke bengkel dan ternyata sekrup setang belum terpasang.
Terpaksa saya kembali ke Beress Dewi Sartika dan minta diperbaiki. Cuma yang bikin mangkel saya seperti tidak dipercaya bahwa itu kelalaian mereka. Alasan mereka, kalau kelalaian mereka tentu hari itu juga persoalan selesai. Saya pun protes dan suruh lihat list perbaikan dan memang ada di situ perbaikan setang. Tak mau berpanjang lebar aku pun terpaksa beli sekrup. Untung tidak jauh ada yang jual. Cuma jadi kesal saja.

Ketidakberesan kedua cukup fatal. Kali ini servis rutin di Beress Jalan Panjang. Aku memilih Beress ini karena kedekatan dengan kantorku saja sih. Selain itu sebelumnya sudah pernah servis di sini dan tidak mengecewakanlah! Bengkel di sini relatif sepi sehingga begitu parkir dan dicatat keluhannya bisa langsung dikerjakan. Tapi tidak tahu ya hari-hari lain. Saya cuma mengamati dari dua kali servis di situ kok.

Begitulah, setelah selesai dicatat motor langsung masuk ke "ruang operasi". Saya pun tenggelam dan penantian ditemani bacaan. Namun di tengah keasyikan saya dipanggil mekaniknya dan kemudian dijelaskan bahwa salah satu komponen di karburator (adjuster) sudah dol. Dia menjelaskan bahwa kelemahan Suzuki Thunder 125 ya di situ. Posisi adjuster yang menjorok rentan menyimpan air saat dicuci. Air yang tersimpan kalau tidak segera dilap lama-lama bisa membikin karat. Jika karat, maka adjuster yang bisa diputar-putar menggunakan obeng ini akan ngadat.

Si Mekanik (lupa menanyakan nama) menjelaskan bahwa untuk memperbaikinya perlu dibobol dulu lalu diganti adjuster baru. Komponen ini tidak mahal sih, sekitar Rp 35 ribuan, cuma pengerjaannya yang lama. "Bisa setengah harian," kata si mekanik tadi. Wah, lama banget. Karena tidak mungkin meninggalkan kantor begitu lama maka aku pun menunda untuk bongkar dan ganti adjuster.

Hari berikutnya aku tidak menggunakan motor untuk ke kantor. Jadi Thunderku ngejogrok di parkiran motor rumah. Dua hari kemudian baru aku pakai untuk mengantar anakku langsung ke kantor. Dari Condet aku ke Cililitan tempat anakku sekolah kemudian menyusuri Dewi Sartika dan belok ke arah Kalibata. Nah, pas di atas jembatan layang Kalibata tiba-tiba motorku kehilangan tenaga. Untung pas turunan sehingga aku tidak perlu mendorongnya. Segera setelah sampai ujung jembatan layang motor aku pinggirkan dan coba distarter tidak bereaksi.

Akhirnya aku telepon adik ipar yang belum berangkat kerja dan minta tolong untuk narik motorku ke Beress Dewi Sartika. Aku pikir ini paling dekat. Sampai di Beress bengkel belum operasi, maklum belum pukul 09.00. Tapi aku sudah diurutan 3. Setelah dapat giliran akhirnya ketahuan mengapa motorku tidak bertenaga. Di dalam karburator bertengger sebuah sekrup! Inilah yang menjadi penghambat suplai bahan bakar ke mesin. Wajar saja berapa kali aku starter kok gak ada respon.

Mau protes ke Beress Jl Panjang sayangnya aku tidak bawa kamera. Coba kalau bawa bisa aku potret dan terserah Beress Jl Panjang mau percaya atau tidak. Yang jelas sepertinya aku harus menghapus daftar Beress Jl Panjang di dalam buku servis.

Tuesday, August 08, 2006

Pagi, Good Morning....

Berangkat pagi - pukul 07.00 dari Cililitan - membuat aku harus melewati Jalan Arjuna Utara. Bagi yang belum hapal, jalan ini sejajar dengan jalan tol dari Pintu Tol Kebunjeruk mengarah ke Tomang. Jalannya sempit, cukup untuk berpapasan dua mobil. Di sisi satunya jalannya juga serupa, namanya Jalan Arjuna Selatan. Dulu, dari Mal Taman Anggrek aku menyisir jalan ini karena ya nyaman saja. Namun berhubung di depan Kantor Pajak ada peringatan tidak boleh mengarah ke Jalan Panjang antara pukul 07.00 dan 09.00 (saya biasanya sampai di sini pukul 10.00-an), maka saya pun mengambil jalur Arjuna Utara.

Jika sebelumnya dari depan Mal Taman Anggrek menyusuri pinggir kali yang bau namun bermandikan segarnya tanaman hias yang dijual, lalu lurus masuk kolong bawah Tol Tomang - Kbjeruk, kini sebelum kolong harus berhenti dulu. Biasanya di sini ada sedikit kemacetan antara kendaraan dari Arjuna Selatan yang mau mengarah ke Mal Taman Anggrek dan antrian kendaraan dari Arjuna Utara yang mau memutar arah ke Arjuna Selatan untuk seterusnya ke Batusari atau melompati tol Dakota (ini akronim dari kata Dalam Kota - ah pandainya orang Indonesia membikin akronim meski di kolom bahasa Koran Tempo justru disindir sebagai orang malas).

Selepas keruwetan yang coba diatur oleh seorang Bapak usia lanjut berseragam hijau (Hansip kali ya....) yang membuatku trenyuh, sebab terus-terang aku justru takut kalau ia tertabrak oleh ulah pengendara motor yang sering kurang sabar itu, aku bisa bernapas lega. Lega betulan sebab di pertigaan itu bau sungai masih terasa. (Saya jadi heran, kok sungai di Jakarta baunya seragam ya? Sampai anakku kadang tidak tahan dan selalu minta sarung tangan buat menutup hidungnya yang mungil itu hihihi....). Aku pun melajukan KilMer-ku sambil hati-hati menyusuri Arjuna Utara sebab meskipun lengang, namun jalur sepi ke arah Jl Panjang itu menjadi santapan lezat pengendara motor yang ingin cepat sampai ke tujuan dari Jalan Panjang atau Tanjungbarat, entah ke arah mana mereka.

Dari sinilah ritualku mulai memperoleh tempat. Melewati antrian kendaraan yang bisa amat panjang itu aku mencuri-curi pandang ke penumpang atau sopir yang ada di dalam mobil. Ada sepasang suami-istri dengan tatapan kosong, entah apa yang ada di pikirannya. Kerja yang menumpuk? Rutinitas yang membosankan? Jika seorang diri, beragam aktivitas dilakukan sekadar membuang waktu agar mengantri menjadi pekerjaan yang bermanfaat. Ada yang menelepon, membaca koran, tapi banyak yang diam mematung - sambil telinganya mendengar musik atau celotehan penyiar radio yang dengan berbusa-busa meyakinkan bahwa pagi hari ini adalah hari yang cerah. Terkadang aku menyaksikan obrolan hangat antara dua wanita eksmud atau ibu dan anaknya. Entah yang diobrolkannya, aku tak kuasa menguping. Lagi pula, apa gunanya? Ah, aneh-aneh saja sampeyan.

Etalase bermacam aktivitas di dalam mobil itu terkadang memberiku semangat bahwa apa yang aku lakukan tidaklah salah. Beralih dari mengendarai mobil ke motor membuatku tidak punya waktu untuk bengong menatap mobil di depan beringsut. Apalagi bersenda-gurau atau berhaha-hihi melalui telepon. Namun mataku tetap awas, melirik sana melirik sini.

Ah, pagi... good morning!!!!

Saturday, August 05, 2006

Lampu rem putih... Uhhhhhhhh!!!! $%@#&*!

Jumat malam, 4 Agustus 2006, sehabis main futsal dalam rangka pertandingan antar unit di lingkungan kerja, aku menyusuri arteri Pondok Indah menuju Slipi untuk seterusnya mengambil jalur Gatot Subroto. Jalan dari Lapangan Pertamina Simpruk relatif sepi, sebab jam sudah menunjuk pukul 21.00 lebih. Setelah menurunkan teman yang nebeng sampai Slipi saya mengambil arah ke kanan untuk seterusnya menuju Pancoran.

Tepat di bawah jalan layang TVRI antrian kendaraan mulai terlihat. Wealah ... tak pikir sudah malam bebas hambatan. Ternyata masih macet juga. Mencoba berjibaku dengan goyang kanan dan kiri akhirnya tembus juga di Semanggi. Ah, benar-benar berhenti, macet cet! Ambil napas sebentar sambil melihat sekeliling. Ah, iya! Ini Jumat malam dan ada acara Indonesian Idol di Balai Sarbini (atau Plaza Semanggi?).

Benar juga, selepas Plaza Semanggi jalanan lancar dan saya memacu KilMer-ku. Wuzzz ... langsung tergeber 80 km/jam. Namun, tanpa sadar aku sudah di belakang motor bebek yang entah karena apa berhenti mendadak. Waktu itu sudah berada di depan Patra Jasa, sebelum naik layang Kuningan. Otomatis aku menginjak rem dengan dikejut-kejut sambil membuang setir ke kanan. Sebenarnya aku tidak perlu sampai gedandaban (apa iya padanannya? kelabakan yang amat sangat plus cemas kali ...) kalau saja lampu rem motor bebek tadi normal-normal saja. Dalam arti merah nyalanya. Kali ini seperti yang jamak dilakukan orang yang gak mikirin orang lain, lampu remnya diganti mikanya menjadi putih bening. Alhasil nyalanya menyilaukan sekali. La wong siang saja lampu rem model begini kadang aku ingin menubruknya kok, apalagi ini malam pekat. Tahu sendiri sebelum layang Kuningan arah Pancoran (eh, iya ya ... layangan Kuningan cuma searah saja hehe....) tidak begitu terang jalannya.

Sambil jalan pelan aku masih berpikir. Apa yang ada di pikirian pengendara motor bebek tadi saat mengganti merah menjadi putih. Apa karena lebih murah? Apa meniru tren? Ah, embuhlah! Yang jelas menurutku mereka egois dan songong (meminjam istilah teman saya).

gg. lanang/10.03 pm

Wednesday, August 02, 2006

Tak disiplinnya "kita"

Pagi tadi, berhubung mau mengurus perpanjangan STNK saya ke Cimanggis, ke rumah saudara istri saya. Dulunya saya tinggal di komplek yang sama dan masih memegang KTP sana. Berhubung surat-surat yang berhubungan dengan domisili masih menggunakan alamat di sana, maka saya menunda dulu untuk memutasikan semua surat-surat tersebut. Saya paling males berurusan dengan birokrasi. Untuk itu, meski tinggal di Condet tapi saya memegang KTP Cimanggis. Habis, untuk mengurus perpindahan seperti itu, di Indonesia urusannya bisa memusingkan. Apalagi ini STNK mobil, wah pasti berhubungan dengan Mbak Dana yang fresh dan centil!

Sehabis mengantar Bagas sekolah di St. Markus Cililitan, saya segera melarikan KilMer-ku menerobos Jl. Raya Bogor Kramatjati yang kala itu masih dipenuhi pedagang ikan. Hampir di semua lapak aku melihat kepala-kepala ikan tergeletak di atas aspal yang basah akibat air cucian ikan biar terlihat segar. Jalan ini hampir dipastikan selalu macet tiap waktu. Pagi disesaki pedagang ikan, siang sedikit kegiatan di Kramat Jati Indah dan toko-toko di pinggir jalan plus ngetemnya angkot. Heran aku, jalan sesempit ini dilalui banyak angkot. Ada 07 (Condet - Cililitan), M28, 06, 06A yang mengarah ke Kampung Melayu, 03 ke Centex (kalau enggak salah), M11 (Cililitan - Mekarsari), belum bis-bis PPD. Sebenarnya ada Kopaja T57 jurusan Kp Rambutan - Blok M tapi rutenya pindah jadi Cililitan - Blok M. Eh, ngelantur jadinya.

Sesampai di rumah saudara aku langsung menyerahkan berkas-berkas dan pamit berangkat kerja. Jadi serasa nostalgia melewati jalur yang dulu aku lewati, juga untuk mengantar Bagas sekolah di Slamet Riyadi Cijantung dan langsung berangkat kerja. Jalanan pagi itu lancar jaya sampai akhirnya aku tercenung di depan KPAD Cijantung (Jalan Kesehatan). Dulu memang jalur ini macet di pagi hari sebab menjadi jalur alternatif menghindari kemacetan akibat pembangunan jalan layang Pasarrebo. Namun semenjak jalan layang beroperasi, jalan ini relatif tak terkena kemacetan. Apalagi kalau mengendarai motor.

Antrian kemacetan sudah mulai terjadi di depan Gereja Laharoi. Selewat jembatan yang melintas jalan tol outer ring road Jakarta, antrian benar-benar macet. Termasuk motor. Jalan yang lebarnya sekitar 6 m itu pun jadi tempat parkir mobil dan motor yang amburadul. Soalnya beberapa mobil yang mau mengarah ke Jl. Tb Simatupang banyak yang berbalik arah. Sebenarnya saya juga pingin balik arah, tapi penasaran saja. Lagi pula motor kan bisa nyelap-nyelip hehe....

Pelan tapi pasti akhirnya aku maju. Akhirnya tahu juga aku penyebab kemacetan. Di depan lapak penjual asesori motor, sebuah truk terperosok. Baru ngeh apa penyebab terperosok setelah melihat tumpukan semen di depan lapak yang belum buka. Weleh-weleh ... ini sopir apa tidak tanggap ya? Jalan sempit begini kok ya nekat. Mungkin karena berpapasan dengan mobil yang mengambil jalur agak tengah berhubung ada motor di parkir, sopir truk membuang setir ke kiri. Roda depan aman melintas cor-coran sementara roda depan yang terbebani oleh puluhan (atau bahkan sampai seratusan?) semen terpaksa harus berhenti.

Saya jadi berpikir, apa sekarang ini tidak ada lagi peraturan bahwa jalan "ini" hanya boleh dilintasi mobil "ini" saja, sedangkan mobil "itu" harus lewat jalan yang kelasnya lebih tinggi. Bisa jadi sudah ada peraturannya, cuma ya kembali ke penegakan hukum dan kedisiplinan kita. Kalau sudah tahu dan disiplin, tentu tidak akan lewat jalan tersebut meski tidak ada polisi.

Ah, kapan negara ini bisa keluar dari krisis kalau perilaku di jalan masih seperti itu ya?

Tuesday, August 01, 2006

Bukan Besarnya, Tapi Caranya

Pagi-pagi aku sudah di-buzz sama temanku. Teman lama, tapi masih sering ketemu lewat Y! Messenger. Obrol punya cerita teman saya ini lagi pusing akibat tercekik cicilan.
"Setiap bulan mesti nyicil rumah, mobil, dan motor. Uang gajian hanya lewat
saja. Pusing aku! Belum dengan biaya tak terduga dan tagihan kartu kredit!"
keluhnya dalam chatting.

Saya pun membalasnya dengan tanya ini itu. Sepengetahuan saya teman saya ini termasuk agak ceroboh dalam mengelola keuangannya. O, ya sekarang tinggalnya di Tangerang dan entah pekerjaan yang keberapa sekarang ini. Saya kadang heran dan bingung. Sementara saya masih bertahan di tempat yang sekarang, ia sudah berkali-kali mengirim email ke saya mengenai perubahan tempat kerjanya. Istrinya kerja, dan dikaruniai dua putra yang sudah menginjak bangku sekolah. Kalau tidak salah dua-duanya SD. Dengan dua pemasukan, saya pun memastikan bahwa take home pay yang dibawa pulang lebih dari yang aku peroleh.

Mengenai cicilan rumah saya baru mengerti bahwa ternyata dulu ia menjual rumah lamanya dan membeli rumah yang baru (masih satu komplek sih, tapi lebih besar). Nah, berhubung kurang ia pun meminjam uang di bank. Sebenarnya bagus juga sih sebab rumah yang lama saya perhatikan tidak mengakomodasi kebutuhan anggota keluarganya. Sayangnya, rumah baru ini belumlah sreg menurut dia. Maka renovasi sana-sini pun ia lakoni. Ia membikin lantai dua yang diisi dengan ruang keluarga dan dua kamar. Saya ingat, renovasi ini dilakukan berbarengan dengan saya membangun rumah. Waktu kenaikan harga bahan bangunan akibat naiknya BBM kita sama-sama menggerutu. (Ah, jadi sedih aku. Gara-gara terkereknya harga beberapa bahan bangunan itu aku tidak sempat menyelesaikan pembangunan rumahku. Kini, setahun sudah rumahku aku tinggali namun masih berantakan.)

Cicilan mobil membuat saya tahu bahwa teman saya sudah ganti. Dulu sempat rerasan sih mau menjual mobil lamanya. Bahkan aku ikut membantu menawarkan ke beberapa teman saya. Termasuk memotret mobilnya, siapa tahu ada yang tanya foto. Nah, mobil barunya tentu membutuhkan dana yang banyak. Bahkan ia nombok tiga kali lipat! Saya tidak tanya berapa banyak ia harus meminjam uang kembali.

Terakhir, cicilan motor. Ini juga berbarengan dengan saya mengambil motor. Gara-garanya - lagi-lagi - naiknya BBM yang gak tanggung-tanggung. Ke kantor menggunakan mobil sudah tidak masuk hitungan. Itu alasanku sehingga terpaksa mengambil kredit motor. Alasan lain, menghemat waktu sebab dengan motor jarak kantor - rumah bisa saya tempuh di bawah 1 jam. Pakai mobil bisa dua kali lipatnya. Teman saya juga begitu. Cuma ia mengambil tenor kredit 1 tahun sedangkan saya 2,5 tahun. Memang, totalnya lebih murah yang 1 tahun tapi bulanannya cukup menguras kantong juga. Aku sih cuek saja bahwa total angsuran lumayan juga jika dikonversikan ke gadget impianku hehe.... Tapi kalau ngoyo mengejar 1 tahun tapi selama setahun keuangan morat-marit enggak lah!

Nah, begitulah. Akumulasi tiga cicilan dan biaya tak terduga membuat teman saya pusing mengelola keuangannya. Padahal, dulu saya sudah bilang kepadanya untuk membatasi cicilan maksimal 30% dari pendapatan kita. Kalau sudah melebihi 50% kita akan kerepotan sendiri. Dengan menganggarkan 30%, maka masih ada ruang tersisa untuk biaya tak terduga. Saya juga memberi tahu untuk menabung di awal, berapa pun jumlahnya. Tapi terus terang, soal ini sulit dilaksanakan, terutama oleh diriku sendiri hehe. Bisa sih begitu dapat gaji langsung disisihkan. Namun, di akhir bulan terkadang harus diambil lagi hehe.... Berarti memang tidak ada yang ditabung atau harus memangkas kebutuhan lain.
"Wah, kalau 30%, jika pendapatan 10 juta, cuma bisa nyicil 3 juta dong.
Waduh, kalo begitu aku harus jadi GM nih ..." canda temanku yang termasuk
manajer madya ini.

Saya pun teringat omongan teman yang jadi perencana keuangan. Dia bilang, sebenarnya bukan soal besarnya yang membuat orang sehat keuangan, tapi lebih ke cara mengelolanya. Ia pun memberi contoh klien yang pernah ditanganinya. Ada manajer berpenghasilan Rp 30 juta tapi tidak memiliki apa-apa. Maksudnya tabungan atau investasi lain yang bisa diuangkan segera jika ia butuh uang cepat. Di sisi lain ia memiliki tagihan yang sudah parah. Sementara ada juga yang berpenghasilan cuma Rp 5 juta tapi tidak memiliki cicilan, rumah milik sendiri, anak sekolah di universitas ternama, dan sedikit tabungan.

Semua berpulang ke masing-masing orang bagaimana mengelola penghasilannya.

Saturday, July 29, 2006

Parkir Motor di Mall

Motor di Jakarta adalah kelas dua! Itulah yang aku perhatikan setelah beberapa kali mengunjungi mal dan gedung di Jakarta menggunakan motor. Tak ada tempat parkir yang nyaman selama pengalamanku memarkir "KilMer"-ku. Eh, KilMer maksudnya Kilat Merah alias Red Thunder alias Suzuki Thunder.

Kesadaran akan tempat parkir motor itu menyentak kala aku parkir di Carefour Lebakbulus. Ini kali pertama aku membawa KilMer-ku ke sini. Kesan pertama sih oke juga. Terlindung dan dekat pintu masuk lagi! Mencarinya tidak susah pula. Jauh dibandingkan parkir di Setiabudhi Building Kuningan yang di luar area perkantoran dan cuma di pinggir jalan plus di atas trotoar. Juga masih bagusan dibandingkan dengan Plaza Senayan yang mesti berkelok-kelok turun ke basement, mirip dengan parkiran di Pusat Grosir Cililitan.

Waktu itu hari Jumat sekitar pukul 16.30. Waktu memasuki lokasi parkiran masih terlihat banyak tempat kosong. Namun melihat ada satu dua motor yang parkirnya di gang masuk atau keluar sehingga membuat akses lalu lalang motor terhambat, aku langsung berpikir bahwa luas lahan parkir masih jauh dari ideal. Makanya aku parkir di tempat yang sekiranya agak mudah saat mau keluar. Setelah dapat, langsung aku menuju Carefour.

Rencana mau ketemu teman batal sebab aku lupa konfirmasi bahwa pertemuan jadi. Yah, gara-gara didera kesibukan jadi lupa menelepon buat konfirmasi pertemuan jadi. Teman saya kaget ketika aku memberi tahu sudah ada di Carefour.
"Wah, aku masih di rumah. Kamu enggak konfirmasi tadi. Ya sudah, diatur lagi deh jadwalnya. Paling tempat dan waktu tidak jauh beda dari yang sekarang kok," suara teman di ujung sana menerobos melalui Samsung CDMA-ku.
Mau apa lagi? Akhirnya aku jalan-jalan ke Carefour. Pertama aku lihat di counter ponsel. Rencana sih pingin ganti, cuma Mbak Dana masih manyun terus. Entah sampai kapan ia bisa tersenyum - paling tidak - kepadaku. Apalagi kalau ngakak, wah senengnya aku. Bisa-bisa bukan hanya ponsel, notebook impian pun langsung menghuni tas backpack-ku. Eh, la kok malah ngoyoworo to?

Begitulah, akhirnya aku beli perlengkapan akuarium buat anakku yang lagi seneng memelihara ikan dan pernik-pernik buat bikin benar pintu. Lumayan juga cuci mataku sore itu. Aku pun langsung menuju kasir dan buang diri dari Carefour.

Nah, benar 'kan?

Begitu tiba di parkiran motor mataku langsung pusing. Aduh, bagaimana bisa keluar motorku? Dalam kondisi seperti itu aku kemudian berpikir alangkah enaknya membawa sepeda. Tinggal angkat beres deh. Meski ada yang bilang Thunderku cungkring (maklum, Mbak Dana baru bisa ngasih yang begituan), tetap saja aku terlalu keberatan untuk bermanuver di tempat yang sesempit itu. Sebelumnya di belakang motorku masih ada ruang yang lega untuk memaju mundurkan motor sebelum aku masuk gang menuju arah keluar. Tapi ... saat itu di belakang motorku ngejogrok motor yang sepertinya asal ditinggal sambil menyisakan ruang untuk lalu lalang orang.

Setelah bersusah payah akhirnya aku bisa bernapas lega. Keringat yang mengalir deras di balik jaket sepertinya menjerit-jerit sebab sebentar lagi ia pasti akan lenyap tersapu angin. Ah, leganya. Kapan ya ada tempat parkir yang nyaman dan enak? Aku jadi rindu akan tempat parkir di Malioboro. Meski di atas trotoar dan tidak terlindungi, namun petugas di sana masih ramah dan mau membantu baik mengeluarkan motor atau dengan menutupi jok motor menggunakan karton.

Eh, buru-buru aku ingat omongan teman: Murah ingin selamat! Hehehe.... iya ya, tadi aku parkir di Carefour kan gratis.
Ah, sudahlah, yang jelas kini aku semakin menyadari bahwa motor di Jakarta keberadaannya tidak dilirik pengusaha mal atau kantor.

Wednesday, July 26, 2006

Menerawang masa depan

Posted by Picasa Ketika bangun tidur, aku melihat ada yang aneh di wajah anakku ini. Tatapan matanya kosong dan polos sekali. Langsung aku ambil kamera dan memotretnya. O, ya nama anakku ini Dimitrij Ciha Dharundara. Umurnya saat dipotret 2 tahun lebih 9 bulan beberapa hari. Meski susah dipahami, namun omongannya sudah banyak sekali. Jika aku tidak mengerti omongannya, maka aku tanya ke kakaknya. Heran, kakaknya justru lebih mengerti omongan adiknya.
"La, kan aku yang ngajari ngomong," tukas Bagas, kakaknya.

Iya ya, sehari-hari memang kedua anakku ini hampir selalu bersamaan. Main bola bareng, nonton teve bareng, bahkan mandi pun bareng.

Klakson kebo

Entah mengapa namanya klakson kebo. Bisa jadi awalnya berbunyi mirip kebo. Tapi ya mengapa pusing soal nama? Pokoknya definisi klakson kebo adalah klakson ( lebih spesifik) motor yang tidak standar (waduh, sudah main pokoknya ...). Eh, ada juga yang bilang klakson ngek ngok!

Nah, yang membuat aku mangkel sama klakson ini adalah soal bunyinya. Selain keras juga bunyi yang gak umum itu bikin kaget. Seperti yang aku alami tadi pagi. Sedang manuver mau melewati dua mobil sejajar sebelum perempatan kuningan dari arah Cawang menuju Grogol, tiba-tiba dari belakang dikagetkan bunyi klakson kebo tadi. Terus terang aku bukan pembalap sehingga untuk menyalip dua mobil sejajar itu perlu konsentrasi
- dan tentu saja ini membuat aku jalan pelan-pelan. Tapi di mata si pemasang klakson aku terlalu lamban sehingga perlu di klakson. Nguekkkkk.....nguekkkkkkkkk. Bunyi memekakkan itu membuatku kaget dan hampir menyenggol salah satu mobil yang ingin kulewati. Spontan aku mengerem dan motor klakson kebo tadi juga otomatis mendecit. Aku menoleh ke belakang dan si pengendara matanya membelalak seolah-olah marah. Tidak mau menambah kemacetan aku pun segera memacu motor seiring lampu lalin yang mulai menghijau.

Dalam perjalanan aku masih grundel. Apa sih untungnya pasang klakson kayak gitu? Grundelan langsung membola salju memikirkan motor-motor yang dimodifikasi. Kebanyakan yang dimodif knalpot, yang diganti dengan knalpot racing. Aku pikir apa enggak salah nih! Modif racing tapi beraninya gebernya di jalan. Huh! Dah bikin pekak telinga apa enggak sadar mereka malah menghambur-hamburkan bensin. Eh, ini cuma kesimpulan ngawurku saja lo. Bermula dari milis motor yang kuikuti, salah satunya sedang membahas konsumsi bensin. Salah seorang penanggap bilang motornya sedikit boros karena sudah diganti knalpot racing dan pilot jetnya. Motor tambah boros sebab - kata teman ada efek psikologis di balik itu. Dengan tambah kenceng dan suaranya pekak membuat pengendara jadi suka menggeber-geber gas.

Sampai kantor aku masih bingung. Apa untungnya sih memodif motor seperti itu?