Wednesday, August 23, 2006

Busway oh bus wae

Empat koridor jalur khusus bus mulai dibangun serentak dan direncanakan selesai akhir tahun ini, 2006. Disebutkan pula armada yang akan melayani sebanyak 203 bus. Ya, kita doakan saja semoga terlaksana sebagaimana adanya. Jangan seperti koridor-koridor sebelumnya yang ternyata armadanya kurang. Namun bukan soal armada yang menjadi perhatianku.

Pembangunan koridor bus way yang dikebut serentak membuat kemacetan parah di sepanjang koridor dan malah merembet ke jalur-jalur sekitarnya. Seperti yang terjadi di koridor Kp. Melayu - Kp. Rambutan. Sewaktu membaca rencana ada koridor ini aku mengernyitkan dahi. Memang mau lewat Jl. Raya Bogor? Kalau Cililitan ke Kampung Melayu jalannya lebar, tapi kalau Cililitan - Kampung Rambutan tidak ada jalur yang lebar. Yang terlebar ya Jl. Raya Bogor yang empat jalur untuk dua arah. Terlebih di depan Pasar Kramatjati dan Pasar Induk sudah menjadi legenda kemacetan di daerah ini. Nah, jika nanti dibangun busway, apa kemacetan tidak menjadi kronis?

Benarlah, seminggu ini Jl. Condet Raya macet parah setelah Jl. Kramatjati diobok-obok buat jalur khusus bus itu. Kemacetan itu terus merembet ke jalan-jalan tikus yang bisa tembus ke Cililitan. Bisa dimaklumi sebab Jl. Kramatjati yang dulunya dua jalur menjadi satu jalur apalagi jalan ini dilalui banyak trayek angkutan umum. Beberapa angkot sudah mulai menghindarinya dan memilih Jl. Condet Raya yang sebelumnya juga memiliki beberapa titik kemacetan seperti di perempatan Jl. Olahraga dan Jl. Gardu.

Aku merasakan betul perubahan itu sebab setiap pagi harus mengantar anakku yang sekolah di daerah Cililitan. Biasanya jika menggunakan mobil maka titik kemacetan hanya ada di perempatan Jl. Olahraga dan itu tidaklah panjang. Paling sekitar 100-an m. Semenjak Jl. Kramatjati dibangun jalur busway, terkadang mau keluar dari Jl. Gardu saja sudah terasa aroma kemacetannya. Kemacetan bertambah parah mulai pertigaan Jl. Munggang arah ke Cililitan.

Yah, mudah-mudahan bus way cepat beroperasi meski saya tidak tahu apakah nanti bertambah lancar daerah Kramatjati atau malahan berubah menjadi tempat parkir.

Monday, August 14, 2006

Beress Yang Tak Beres

Ini untuk kedua kalinya saya mengalami hal tidak mengenakkan berkenaan dengan servis
 rutin kendaraan saya, Thunder 125.  Yang pertama sudah agak lupa, tapi tempat servis adalah Beress Suzuki Dewi Sartika. Sehabis servis tidak masalah. Namun dua hari kemudian baru ada
yang aneh dengan motor itu. Setangnya agak bengkok, tidak lurus.  Berhubung tidak
paham permotoran saya pun balik ke bengkel dan ternyata sekrup setang belum terpasang.
Terpaksa saya kembali ke Beress Dewi Sartika dan minta diperbaiki. Cuma yang bikin mangkel saya seperti tidak dipercaya bahwa itu kelalaian mereka. Alasan mereka, kalau kelalaian mereka tentu hari itu juga persoalan selesai. Saya pun protes dan suruh lihat list perbaikan dan memang ada di situ perbaikan setang. Tak mau berpanjang lebar aku pun terpaksa beli sekrup. Untung tidak jauh ada yang jual. Cuma jadi kesal saja.

Ketidakberesan kedua cukup fatal. Kali ini servis rutin di Beress Jalan Panjang. Aku memilih Beress ini karena kedekatan dengan kantorku saja sih. Selain itu sebelumnya sudah pernah servis di sini dan tidak mengecewakanlah! Bengkel di sini relatif sepi sehingga begitu parkir dan dicatat keluhannya bisa langsung dikerjakan. Tapi tidak tahu ya hari-hari lain. Saya cuma mengamati dari dua kali servis di situ kok.

Begitulah, setelah selesai dicatat motor langsung masuk ke "ruang operasi". Saya pun tenggelam dan penantian ditemani bacaan. Namun di tengah keasyikan saya dipanggil mekaniknya dan kemudian dijelaskan bahwa salah satu komponen di karburator (adjuster) sudah dol. Dia menjelaskan bahwa kelemahan Suzuki Thunder 125 ya di situ. Posisi adjuster yang menjorok rentan menyimpan air saat dicuci. Air yang tersimpan kalau tidak segera dilap lama-lama bisa membikin karat. Jika karat, maka adjuster yang bisa diputar-putar menggunakan obeng ini akan ngadat.

Si Mekanik (lupa menanyakan nama) menjelaskan bahwa untuk memperbaikinya perlu dibobol dulu lalu diganti adjuster baru. Komponen ini tidak mahal sih, sekitar Rp 35 ribuan, cuma pengerjaannya yang lama. "Bisa setengah harian," kata si mekanik tadi. Wah, lama banget. Karena tidak mungkin meninggalkan kantor begitu lama maka aku pun menunda untuk bongkar dan ganti adjuster.

Hari berikutnya aku tidak menggunakan motor untuk ke kantor. Jadi Thunderku ngejogrok di parkiran motor rumah. Dua hari kemudian baru aku pakai untuk mengantar anakku langsung ke kantor. Dari Condet aku ke Cililitan tempat anakku sekolah kemudian menyusuri Dewi Sartika dan belok ke arah Kalibata. Nah, pas di atas jembatan layang Kalibata tiba-tiba motorku kehilangan tenaga. Untung pas turunan sehingga aku tidak perlu mendorongnya. Segera setelah sampai ujung jembatan layang motor aku pinggirkan dan coba distarter tidak bereaksi.

Akhirnya aku telepon adik ipar yang belum berangkat kerja dan minta tolong untuk narik motorku ke Beress Dewi Sartika. Aku pikir ini paling dekat. Sampai di Beress bengkel belum operasi, maklum belum pukul 09.00. Tapi aku sudah diurutan 3. Setelah dapat giliran akhirnya ketahuan mengapa motorku tidak bertenaga. Di dalam karburator bertengger sebuah sekrup! Inilah yang menjadi penghambat suplai bahan bakar ke mesin. Wajar saja berapa kali aku starter kok gak ada respon.

Mau protes ke Beress Jl Panjang sayangnya aku tidak bawa kamera. Coba kalau bawa bisa aku potret dan terserah Beress Jl Panjang mau percaya atau tidak. Yang jelas sepertinya aku harus menghapus daftar Beress Jl Panjang di dalam buku servis.

Tuesday, August 08, 2006

Pagi, Good Morning....

Berangkat pagi - pukul 07.00 dari Cililitan - membuat aku harus melewati Jalan Arjuna Utara. Bagi yang belum hapal, jalan ini sejajar dengan jalan tol dari Pintu Tol Kebunjeruk mengarah ke Tomang. Jalannya sempit, cukup untuk berpapasan dua mobil. Di sisi satunya jalannya juga serupa, namanya Jalan Arjuna Selatan. Dulu, dari Mal Taman Anggrek aku menyisir jalan ini karena ya nyaman saja. Namun berhubung di depan Kantor Pajak ada peringatan tidak boleh mengarah ke Jalan Panjang antara pukul 07.00 dan 09.00 (saya biasanya sampai di sini pukul 10.00-an), maka saya pun mengambil jalur Arjuna Utara.

Jika sebelumnya dari depan Mal Taman Anggrek menyusuri pinggir kali yang bau namun bermandikan segarnya tanaman hias yang dijual, lalu lurus masuk kolong bawah Tol Tomang - Kbjeruk, kini sebelum kolong harus berhenti dulu. Biasanya di sini ada sedikit kemacetan antara kendaraan dari Arjuna Selatan yang mau mengarah ke Mal Taman Anggrek dan antrian kendaraan dari Arjuna Utara yang mau memutar arah ke Arjuna Selatan untuk seterusnya ke Batusari atau melompati tol Dakota (ini akronim dari kata Dalam Kota - ah pandainya orang Indonesia membikin akronim meski di kolom bahasa Koran Tempo justru disindir sebagai orang malas).

Selepas keruwetan yang coba diatur oleh seorang Bapak usia lanjut berseragam hijau (Hansip kali ya....) yang membuatku trenyuh, sebab terus-terang aku justru takut kalau ia tertabrak oleh ulah pengendara motor yang sering kurang sabar itu, aku bisa bernapas lega. Lega betulan sebab di pertigaan itu bau sungai masih terasa. (Saya jadi heran, kok sungai di Jakarta baunya seragam ya? Sampai anakku kadang tidak tahan dan selalu minta sarung tangan buat menutup hidungnya yang mungil itu hihihi....). Aku pun melajukan KilMer-ku sambil hati-hati menyusuri Arjuna Utara sebab meskipun lengang, namun jalur sepi ke arah Jl Panjang itu menjadi santapan lezat pengendara motor yang ingin cepat sampai ke tujuan dari Jalan Panjang atau Tanjungbarat, entah ke arah mana mereka.

Dari sinilah ritualku mulai memperoleh tempat. Melewati antrian kendaraan yang bisa amat panjang itu aku mencuri-curi pandang ke penumpang atau sopir yang ada di dalam mobil. Ada sepasang suami-istri dengan tatapan kosong, entah apa yang ada di pikirannya. Kerja yang menumpuk? Rutinitas yang membosankan? Jika seorang diri, beragam aktivitas dilakukan sekadar membuang waktu agar mengantri menjadi pekerjaan yang bermanfaat. Ada yang menelepon, membaca koran, tapi banyak yang diam mematung - sambil telinganya mendengar musik atau celotehan penyiar radio yang dengan berbusa-busa meyakinkan bahwa pagi hari ini adalah hari yang cerah. Terkadang aku menyaksikan obrolan hangat antara dua wanita eksmud atau ibu dan anaknya. Entah yang diobrolkannya, aku tak kuasa menguping. Lagi pula, apa gunanya? Ah, aneh-aneh saja sampeyan.

Etalase bermacam aktivitas di dalam mobil itu terkadang memberiku semangat bahwa apa yang aku lakukan tidaklah salah. Beralih dari mengendarai mobil ke motor membuatku tidak punya waktu untuk bengong menatap mobil di depan beringsut. Apalagi bersenda-gurau atau berhaha-hihi melalui telepon. Namun mataku tetap awas, melirik sana melirik sini.

Ah, pagi... good morning!!!!

Saturday, August 05, 2006

Lampu rem putih... Uhhhhhhhh!!!! $%@#&*!

Jumat malam, 4 Agustus 2006, sehabis main futsal dalam rangka pertandingan antar unit di lingkungan kerja, aku menyusuri arteri Pondok Indah menuju Slipi untuk seterusnya mengambil jalur Gatot Subroto. Jalan dari Lapangan Pertamina Simpruk relatif sepi, sebab jam sudah menunjuk pukul 21.00 lebih. Setelah menurunkan teman yang nebeng sampai Slipi saya mengambil arah ke kanan untuk seterusnya menuju Pancoran.

Tepat di bawah jalan layang TVRI antrian kendaraan mulai terlihat. Wealah ... tak pikir sudah malam bebas hambatan. Ternyata masih macet juga. Mencoba berjibaku dengan goyang kanan dan kiri akhirnya tembus juga di Semanggi. Ah, benar-benar berhenti, macet cet! Ambil napas sebentar sambil melihat sekeliling. Ah, iya! Ini Jumat malam dan ada acara Indonesian Idol di Balai Sarbini (atau Plaza Semanggi?).

Benar juga, selepas Plaza Semanggi jalanan lancar dan saya memacu KilMer-ku. Wuzzz ... langsung tergeber 80 km/jam. Namun, tanpa sadar aku sudah di belakang motor bebek yang entah karena apa berhenti mendadak. Waktu itu sudah berada di depan Patra Jasa, sebelum naik layang Kuningan. Otomatis aku menginjak rem dengan dikejut-kejut sambil membuang setir ke kanan. Sebenarnya aku tidak perlu sampai gedandaban (apa iya padanannya? kelabakan yang amat sangat plus cemas kali ...) kalau saja lampu rem motor bebek tadi normal-normal saja. Dalam arti merah nyalanya. Kali ini seperti yang jamak dilakukan orang yang gak mikirin orang lain, lampu remnya diganti mikanya menjadi putih bening. Alhasil nyalanya menyilaukan sekali. La wong siang saja lampu rem model begini kadang aku ingin menubruknya kok, apalagi ini malam pekat. Tahu sendiri sebelum layang Kuningan arah Pancoran (eh, iya ya ... layangan Kuningan cuma searah saja hehe....) tidak begitu terang jalannya.

Sambil jalan pelan aku masih berpikir. Apa yang ada di pikirian pengendara motor bebek tadi saat mengganti merah menjadi putih. Apa karena lebih murah? Apa meniru tren? Ah, embuhlah! Yang jelas menurutku mereka egois dan songong (meminjam istilah teman saya).

gg. lanang/10.03 pm

Wednesday, August 02, 2006

Tak disiplinnya "kita"

Pagi tadi, berhubung mau mengurus perpanjangan STNK saya ke Cimanggis, ke rumah saudara istri saya. Dulunya saya tinggal di komplek yang sama dan masih memegang KTP sana. Berhubung surat-surat yang berhubungan dengan domisili masih menggunakan alamat di sana, maka saya menunda dulu untuk memutasikan semua surat-surat tersebut. Saya paling males berurusan dengan birokrasi. Untuk itu, meski tinggal di Condet tapi saya memegang KTP Cimanggis. Habis, untuk mengurus perpindahan seperti itu, di Indonesia urusannya bisa memusingkan. Apalagi ini STNK mobil, wah pasti berhubungan dengan Mbak Dana yang fresh dan centil!

Sehabis mengantar Bagas sekolah di St. Markus Cililitan, saya segera melarikan KilMer-ku menerobos Jl. Raya Bogor Kramatjati yang kala itu masih dipenuhi pedagang ikan. Hampir di semua lapak aku melihat kepala-kepala ikan tergeletak di atas aspal yang basah akibat air cucian ikan biar terlihat segar. Jalan ini hampir dipastikan selalu macet tiap waktu. Pagi disesaki pedagang ikan, siang sedikit kegiatan di Kramat Jati Indah dan toko-toko di pinggir jalan plus ngetemnya angkot. Heran aku, jalan sesempit ini dilalui banyak angkot. Ada 07 (Condet - Cililitan), M28, 06, 06A yang mengarah ke Kampung Melayu, 03 ke Centex (kalau enggak salah), M11 (Cililitan - Mekarsari), belum bis-bis PPD. Sebenarnya ada Kopaja T57 jurusan Kp Rambutan - Blok M tapi rutenya pindah jadi Cililitan - Blok M. Eh, ngelantur jadinya.

Sesampai di rumah saudara aku langsung menyerahkan berkas-berkas dan pamit berangkat kerja. Jadi serasa nostalgia melewati jalur yang dulu aku lewati, juga untuk mengantar Bagas sekolah di Slamet Riyadi Cijantung dan langsung berangkat kerja. Jalanan pagi itu lancar jaya sampai akhirnya aku tercenung di depan KPAD Cijantung (Jalan Kesehatan). Dulu memang jalur ini macet di pagi hari sebab menjadi jalur alternatif menghindari kemacetan akibat pembangunan jalan layang Pasarrebo. Namun semenjak jalan layang beroperasi, jalan ini relatif tak terkena kemacetan. Apalagi kalau mengendarai motor.

Antrian kemacetan sudah mulai terjadi di depan Gereja Laharoi. Selewat jembatan yang melintas jalan tol outer ring road Jakarta, antrian benar-benar macet. Termasuk motor. Jalan yang lebarnya sekitar 6 m itu pun jadi tempat parkir mobil dan motor yang amburadul. Soalnya beberapa mobil yang mau mengarah ke Jl. Tb Simatupang banyak yang berbalik arah. Sebenarnya saya juga pingin balik arah, tapi penasaran saja. Lagi pula motor kan bisa nyelap-nyelip hehe....

Pelan tapi pasti akhirnya aku maju. Akhirnya tahu juga aku penyebab kemacetan. Di depan lapak penjual asesori motor, sebuah truk terperosok. Baru ngeh apa penyebab terperosok setelah melihat tumpukan semen di depan lapak yang belum buka. Weleh-weleh ... ini sopir apa tidak tanggap ya? Jalan sempit begini kok ya nekat. Mungkin karena berpapasan dengan mobil yang mengambil jalur agak tengah berhubung ada motor di parkir, sopir truk membuang setir ke kiri. Roda depan aman melintas cor-coran sementara roda depan yang terbebani oleh puluhan (atau bahkan sampai seratusan?) semen terpaksa harus berhenti.

Saya jadi berpikir, apa sekarang ini tidak ada lagi peraturan bahwa jalan "ini" hanya boleh dilintasi mobil "ini" saja, sedangkan mobil "itu" harus lewat jalan yang kelasnya lebih tinggi. Bisa jadi sudah ada peraturannya, cuma ya kembali ke penegakan hukum dan kedisiplinan kita. Kalau sudah tahu dan disiplin, tentu tidak akan lewat jalan tersebut meski tidak ada polisi.

Ah, kapan negara ini bisa keluar dari krisis kalau perilaku di jalan masih seperti itu ya?

Tuesday, August 01, 2006

Bukan Besarnya, Tapi Caranya

Pagi-pagi aku sudah di-buzz sama temanku. Teman lama, tapi masih sering ketemu lewat Y! Messenger. Obrol punya cerita teman saya ini lagi pusing akibat tercekik cicilan.
"Setiap bulan mesti nyicil rumah, mobil, dan motor. Uang gajian hanya lewat
saja. Pusing aku! Belum dengan biaya tak terduga dan tagihan kartu kredit!"
keluhnya dalam chatting.

Saya pun membalasnya dengan tanya ini itu. Sepengetahuan saya teman saya ini termasuk agak ceroboh dalam mengelola keuangannya. O, ya sekarang tinggalnya di Tangerang dan entah pekerjaan yang keberapa sekarang ini. Saya kadang heran dan bingung. Sementara saya masih bertahan di tempat yang sekarang, ia sudah berkali-kali mengirim email ke saya mengenai perubahan tempat kerjanya. Istrinya kerja, dan dikaruniai dua putra yang sudah menginjak bangku sekolah. Kalau tidak salah dua-duanya SD. Dengan dua pemasukan, saya pun memastikan bahwa take home pay yang dibawa pulang lebih dari yang aku peroleh.

Mengenai cicilan rumah saya baru mengerti bahwa ternyata dulu ia menjual rumah lamanya dan membeli rumah yang baru (masih satu komplek sih, tapi lebih besar). Nah, berhubung kurang ia pun meminjam uang di bank. Sebenarnya bagus juga sih sebab rumah yang lama saya perhatikan tidak mengakomodasi kebutuhan anggota keluarganya. Sayangnya, rumah baru ini belumlah sreg menurut dia. Maka renovasi sana-sini pun ia lakoni. Ia membikin lantai dua yang diisi dengan ruang keluarga dan dua kamar. Saya ingat, renovasi ini dilakukan berbarengan dengan saya membangun rumah. Waktu kenaikan harga bahan bangunan akibat naiknya BBM kita sama-sama menggerutu. (Ah, jadi sedih aku. Gara-gara terkereknya harga beberapa bahan bangunan itu aku tidak sempat menyelesaikan pembangunan rumahku. Kini, setahun sudah rumahku aku tinggali namun masih berantakan.)

Cicilan mobil membuat saya tahu bahwa teman saya sudah ganti. Dulu sempat rerasan sih mau menjual mobil lamanya. Bahkan aku ikut membantu menawarkan ke beberapa teman saya. Termasuk memotret mobilnya, siapa tahu ada yang tanya foto. Nah, mobil barunya tentu membutuhkan dana yang banyak. Bahkan ia nombok tiga kali lipat! Saya tidak tanya berapa banyak ia harus meminjam uang kembali.

Terakhir, cicilan motor. Ini juga berbarengan dengan saya mengambil motor. Gara-garanya - lagi-lagi - naiknya BBM yang gak tanggung-tanggung. Ke kantor menggunakan mobil sudah tidak masuk hitungan. Itu alasanku sehingga terpaksa mengambil kredit motor. Alasan lain, menghemat waktu sebab dengan motor jarak kantor - rumah bisa saya tempuh di bawah 1 jam. Pakai mobil bisa dua kali lipatnya. Teman saya juga begitu. Cuma ia mengambil tenor kredit 1 tahun sedangkan saya 2,5 tahun. Memang, totalnya lebih murah yang 1 tahun tapi bulanannya cukup menguras kantong juga. Aku sih cuek saja bahwa total angsuran lumayan juga jika dikonversikan ke gadget impianku hehe.... Tapi kalau ngoyo mengejar 1 tahun tapi selama setahun keuangan morat-marit enggak lah!

Nah, begitulah. Akumulasi tiga cicilan dan biaya tak terduga membuat teman saya pusing mengelola keuangannya. Padahal, dulu saya sudah bilang kepadanya untuk membatasi cicilan maksimal 30% dari pendapatan kita. Kalau sudah melebihi 50% kita akan kerepotan sendiri. Dengan menganggarkan 30%, maka masih ada ruang tersisa untuk biaya tak terduga. Saya juga memberi tahu untuk menabung di awal, berapa pun jumlahnya. Tapi terus terang, soal ini sulit dilaksanakan, terutama oleh diriku sendiri hehe. Bisa sih begitu dapat gaji langsung disisihkan. Namun, di akhir bulan terkadang harus diambil lagi hehe.... Berarti memang tidak ada yang ditabung atau harus memangkas kebutuhan lain.
"Wah, kalau 30%, jika pendapatan 10 juta, cuma bisa nyicil 3 juta dong.
Waduh, kalo begitu aku harus jadi GM nih ..." canda temanku yang termasuk
manajer madya ini.

Saya pun teringat omongan teman yang jadi perencana keuangan. Dia bilang, sebenarnya bukan soal besarnya yang membuat orang sehat keuangan, tapi lebih ke cara mengelolanya. Ia pun memberi contoh klien yang pernah ditanganinya. Ada manajer berpenghasilan Rp 30 juta tapi tidak memiliki apa-apa. Maksudnya tabungan atau investasi lain yang bisa diuangkan segera jika ia butuh uang cepat. Di sisi lain ia memiliki tagihan yang sudah parah. Sementara ada juga yang berpenghasilan cuma Rp 5 juta tapi tidak memiliki cicilan, rumah milik sendiri, anak sekolah di universitas ternama, dan sedikit tabungan.

Semua berpulang ke masing-masing orang bagaimana mengelola penghasilannya.