Tuesday, November 14, 2006

Repotnya Jadi Orang Miskin

Ramai-ramai kedatangan Bush ke Indonesia mengingatkan aku pada masa ketika KKN di sebuah kampung di pinggir pantai di kawasan Cipatujah, Tasikmalaya. Kampung ini penghasil pisang dan kayu albasia. Sayangnya, akses jalan ke pasar terhalang sungai yang besar. Tapi bukan soal pisang atau kayu yang akan aku ceritakan. Memang apa hubungannya pisang dan kayu albasia dengan Bush? Iya 'kan?

Alkisah, ...walah, kayak cerita misteri ... saya dan rombongan berkunjung ke salah satu penduduk. Hampir semua penduduk di kampung ini hidup di bawah garis kemiskinan. Rumahnya rata-rata beratapkan rumbia dan berdinding anyaman bambu. Beberapa memang sudah permanen dan bisa ditebak, pasti salah seorang anaknya sudah merantau. Entah ke Tasiknya atau malah lebih jauh seperti ke Bandung dan Jakarta. Tapi bukan soal rumah yang mau aku ceritakan. Memangnya Bush mau tinggal di rumah seperti itu?

Kedatangan kami untuk bertanya-tanya tentang kondisi masyarakat di situ. Biar kalau bikin program tidak salah sasaran kira-kira tujuan kami. Setelah tanya ini itu, kami sedikit mendengar kegaduhan dari ruang dalam. Namun karena yang fasih berbahasa Sunda hanya seorang, kami tidak mengerti apa yang diributkan. Yang jelas setelah agak lama "keributan" tadi mereda, keluarlah minuman bersoda dengan es batu. Wah, ini yang ditunggu-tunggu. O, ya kedatangan kami waktu itu memang agak siang sehingga panas agak mengganggu kami. Tentu dengan seteguk dua teguk minuman bersoda dingin akan meringankan penderitaan kami. Eh, jelas bukan soal kami menderita mengapa aku menulis ini berkaitan dengan kedatangan Paman Bush.

Inilah yang membuat kami agak sesak dada. Beruntung kami mengetahui hal ini tidak pas kejadian. Bisa-bisa tersedak. Kami pun baru ngeh dengan keributan yang terjadi waktu itu. Saking asyiknya dengan obrolan, kami tidak menyadari bahwa minuman bersoda plus es batu adalah sesuatu hal yang mencolok di rumah itu. Dan benar memang, untuk memperoleh "kemewahan" tadi, keluarga yang kami sambangi itu harus pontang-panting mengutang ke warung tetangga. Bahkan, salah seorang anggota keluarga belum pernah merasakan minuman tadi.

Terus, apa hubungannya dengan kedatangan Bush? Hehe ... saya juga tidak tahu sih. Cuma aku melihat pemerintah kita seperti keluarga yang kami sambangi itu. Bersusah payah menjamu tamu agar "gimana gitu" meski untuk itu harus rela berutang. Mereka takut jika disajikan makanan dan minuman yang mereka punya kami akan keracunan. Padahal, kami tidak disuguhi apa-apa pun tidak berkeberatan. Lo, tapi apa Bush tidak keberatan juga jika disambut dengan ala kadarnya? Maksudku tidak sampai harus ngoprak-oprak pedagang kaki lima di seputaran Pasar Anyar dengan dalih itu sudah program rutin. Padahal jelas-jelas PKL-nya bilang kadang-kadang saja mereka ditertibkan.

Ah, embuhlah. Yang jelas kadang kita terlalu menghormati tamu melebihi batas kemampuan kita.

Tuesday, November 07, 2006

Terlena kenyamanan

Komputer server kena virus! Begitulah kabar yang aku terima. Virus kali ini agak aneh karena hanya menyerang OS Windows 2000, baik yang server atau pro. Karena untuk keperluan upload artikel aku menggunakan Win 2000 server, maka komputerku pun tak lepas dari serangan virus yang belum diketahui identitasnya itu. Setelah terjangkiti virus ini, komputer sering merestart setiap selang beberapa waktu. Program FTP juga dilumpuhkan. Begitu juga dengan MS Word kehilangan fungsi paste. Pokoknya sengsara banget deh!

Hari pertama terserang, saat tanya bagian TI belum jelas apa jenis virusnya. Yang jelas antivirus Symantec tidak berdaya. Virus semakin menyebar sebab ia memancarulangkan melalui jaringan. Akhirnya dengan terpaksa aku mencoba bertahan sebisa mungkin melawan virus. Namun baru mengetik sebentar tiba-tiba muncul peringatan bahwa komputer akan mati setelah sekian detik. Langsung saja saya Save naskah yang sudah terketik sambil menunggu PC restart. Cukup sehari saya sudah tidak kuat. Akhirnya dengan menyesal PC saya dikarantina, tidak boleh masuk jaringan.

Di sinilah awal penderitaan saya. Sudah tercerabut dari jaringan, virus belum bisa dienyahkan lagi. Telepon ke bagian TI baru dapat jawaban, virusnya berjenis Trojan. Antivirus sudah hampir ketemu, tapi belum bisa 100% menyehatkan komputer. Sudah dicoba di beberapa komputer malah terkadang menghapus file penting. Terpaksa aku mencuri-curi kesempatan ke komputer yang nganggur. Terus terang cara ini tidak efektif. Apalagi pekerjaan di kantor sudah menggunakan Intranet sehingga akses ke jaringan adalah mutlak.

Saya baru menyadari bahwa selama ini terlena oleh kenyamanan. Saya lupa untuk membuat file-file cadangan setiap naskah atau artikel yang sedang saya kerjakan. Di saat begini saya tidak leluasa melakukan pekerjaan saya. Padahal saya membutuhkan keterikatan yang kuat terhadap apa yang saya lakukan. Memang, dengan Intranet lebih cepat kerjanya dan tidak perlu mengedarkan disket jika mau disunting. Tapi dalam kondisi jaringan terserang virus dan tidak semua komputer di jaringan kena, maka saya seperti ayam masuk kurungan. Tidak bisa leluasa berkokok.

Akhirnya virus bisa dibersihkan, tapi tak lama. Sebab ternyata virus tersebut bisa malih rupa. Masih berupa trojan juga, tapi menyerang file lain. Kali ini berakibat komputer akan restart terus menerus. Sekarang komputerku benar-benar lumpuh. Jalan keluarnya adalah install ulang atau menunggu antivirus baru. Ya sudah, aku pilih install ulang sambil berharap ada antivirus baru yang lebih joss.

Setelah penantian dan merelakan komputer diobok-obok, akhirnya antivirus baru itu ketemu. Huh ... leganya bisa bekerja dengan normal. Sekarang tinggal mengingat-ingat kejadian ini untuk selalu menyimpan cadangan pekerjaan di hard disk komputerku. Tidak mengandalkan data di jaringan!

20-11-2006
Komputerku pulih bersamaan Bush datang ke Bogor