Lima menit bukanlah berarti sebuah waktu. Ini hanyalah kiasan saya untuk menyampaikan hal-hal di seputaran saya yang menurut saya bisa direnungkan.
Wednesday, May 23, 2007
Pesan yang berharga
Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan pakaian dalam dan membuka bungkusan berbahan sutra "Ini ...," dia berkata, "Bukan bungkusan yang asing lagi."
Dia membuka kotak itu dan memandang pakaian dalam sutra serta kotaknya. "Istriku mendapatkan ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini. Karena menurut dia, hanya akan digunakan untuk kesempatan yang istimewa."
Dia melangkah dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan hadiah di dekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman.
Istrinya baru saja meninggal.
Dia menoleh padaku dan berkata: "JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA. SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH KESEMPATAN YANG ISTIMEWA!"
Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku. Sekarang aku lebih banyak membaca dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di sofa tanpa khawatir tentang apa pun. Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama keluargaku dan mengurangi waktu bekerjaku.
Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman supaya bisa hidup, tidak semata-mata supaya bisa survive (bertahan hidup) saja. Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu. Aku menggunakan gelas-gelas kristal setiap hari. Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak menyimpan parfum specialku untuk kesempatan istimewa, aku menggunakannya ke mana pun aku menginginkannya.
Kata-kata "Suatu hari ...." dan "Satu saat nanti ...." sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat, mendengar, dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat, mendengar, atau melakukannya sekarang. Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku apabila dia tahu dia tidak akan ada di sana pagi berikutnya. Ini yang tak seorang pun mampu mengatakannya.
Aku berpikir, dia mungkin sedang menelepon rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia menelepon teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah mereka lakukan. Aku suka berpikir bahwa dia mungkin pergi makan martabak spesial, makanan favoritnya.
Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan aku sesali jika tak aku lakukan, jika aku tahu waktu sudah dekat. Aku akan menyesalinya karena aku tidak akan lebih lama lagi melihat teman-teman yang akan aku temui. Juga surat-surat yang ingin aku tulis.
Suatu hari nanti aku akan menyesal dan merasa sedih, karena aku tidak sempat mengatakan betapa aku mencintai orangtuaku, saudara-saudaraku, dan teman-temanku.
Sekarang, aku mencoba untuk tidak menunda atau menyimpan apa pun yang bisa membuatku tertawa dan bisa membuatku menikmati hidup. Setiap pagi aku berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini akan menjadi hari istimewa. Setiap hari, setiap jam, setiap menit adalah istimewa.
Katak Yang Tuli
Perlombaan dimulai. Secara jujur, tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa mencapai puncak menara.
Terdengar suara: "Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak." Atau: "Tidak ada kesempatan untuk berhasil...Menaranya terlalu tinggi...!!"
Katak-katak kecil mulai berjatuhan. Satu persatu. Kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan. Semakin tinggi dan semakin tinggi.
Penonton terus bersorak
"Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!"
Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah.
Tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi. Dia tak akan menyerah!
Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak!
SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya? Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan? Tak ada jawaban.
Ternyata... katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!
Kata bijak dari cerita ini adalah jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu. Selalu pikirkan kata-kata bertuah yang ada. Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengaruhi perilakumu!
Karena itu tetaplah POSITIVE! Yang terpenting, berlakulah TULI jika orang berkata kepadamu bahwa KAMU tidak bisa menggapai cita-citamu! Selalu berpikirlah: I can do this!
Polisi Yang Serba Salah
gak mau berpolemik soal no cantik, tapi mau berbagi cerita soal keistimewaan saja.
alkisah, suatu sore saya pulang naik motor melewati jalan jend sudirman dari senayan. seumur2 tinggal di jakarta baru kali ini aku lewat jl sudirman.
selesai acara di senayan aku mau pulang ke condet dan keluar lewat pintu samping hilton. berhubung belum pernah lewat jalan ini maka ketika ada dua motor yang masuk jalur cepat (sebelum spbu semanggi samping hilton) saya pun membuntuti. jalan sepi sebab hari sabtu. tidak ada masalah berarti sebelum sampai putaran semanggi mengarah ke gatsu. tiba2 sudah muncul polisi di atas jembatan. langsung deh diminta SIM dan diceramahi. saya baru ngeh ternyata tidak boleh lewat jalur cepat. saya berani lewat karena selain faktor ada dua motor tadi (ternyata dua pengendara motor yang saya ikuti juga baru sekali naik motor di sudirman), saya juga tidak melihat tanda larangan motor masuk jalur cepat (tanda itu adanya di ujung dekat patung pizza dan di turunan waktu mau berputar).
alhasil saya dan dua pengendara tadi pun di sidang di bawah jembatan semanggi. ternyata sejuk juga ya nongkrong di bawah jembatan semanggi. di sinilah terjadi kejadian yang menurut saya menarik. ketika polisi akhirnya meminta kami memilih untuk damai atau sidang, dua pengendara yang ternyata mahasiswa tadi mencoba mengajak berdamai sementara saya minta ditilang saja. alasan mereka tidak punya waktu untuk sidang. lucunya ketika diminat damai mau ngasih berapa, para mahasiswa ini patungan dan terkumpul 20 rb. polisinya langsung bilang, "Dik, denda tilang masuk jalur cepat ini saja sudah bisa 30rb-an lo."
"la tapi kami cuma punya ini pak?" begitu koor mereka.
polisi pun lalu berpaling ke aku dan menanyakan apakah masih mau tilang. aku jawab iya. dia terus tanya2 soal pekerjaanku dan aku sodorkan kartu nama saja.
"wah, orang lapangan ya?" polisi tadi bertanya tanpa perlu minta jawaban dariku.
di sinilah cerita lucu (menurutku) terjadi dan membuat polisi tadi justru terjepit. mau menerima duit damai bisa jadi bahan pewartaanku, mau menilang mahasiswa ia merasa kasihan. akhirnya polisi tadi pun bilang ke mahasiswa tadi, "ya sudah, bawa saja uang kalian dan lain kali hati-hati." ia pun mengembalikan SIM dua mahasiswa tadi.
ia lalu mengajakku ngobrol ngalor-kidul. setelah agak lama ngobrol, SIM-ku pun dikembalikan sambil berujar sama: "lain kali hati-hati ya. kalo ada apa2 langsung saja ke bawah sini." aku pun mengiyakan sambil lalu.
salam ngelantur...
022