Untuk kesekian kalinya aku melihat orang menelepon sambil mengendarai motor. Kali ini aku menjumpainya di depan Carrefour MT Haryono di lajur ke-2. Situasi jalan memang masih tergolong sepi, maklum masih pukul 07.00 lebih dikit. Pertama saya pikir dia membaca SMS di ponselnya sebab tangan kirinya sibuk memencet-mencet tombol sambil matanya berakrobat naik turun: sesekali melihat jalanan, selintas kemudian melihat layar ponsel. Saya pun membuntuti sambil mengklaksonnya.
Ketika kemudian ia mengangkat ponselnya dan menelisipkan ujung telepon itu ke sela-sela telinga yang tertutup helm setengah wajah itu baru tahu aku kalau ia mau menelepon. Sebuah manuver yang hebat namun berisiko sebab meski ia mengendarai motor bebek yang bisa dikendalikan dengan satu tangan, namun berbagi konsentrasi dan juga tenaga antara bertelepon dan mengendarai motor jelas bukan pekerjaan mudah. Saya pun memencet klakson kembali dan ia merasa terganggu atau sadar diri, pindah jalur di paling kiri. Tadinya aku berpikir ia akan berhenti, ternyata tidak. Ah, aku pun masa bodoh dan melajukan motorku meninggalkan orang yang bertelepon tadi.
Saya tidak habis pikir, mengapa orang-orang itu (banyak yang pernah aku lihat, baik yang menelepon seperti di atas atau berkirim SMS) tidak berpikir bahwa tindakannya itu membahayakan orang lain. Selain tentu saja dirinya sendiri. Mereka bisa saja bilang sudah ahli "menyetir" motor, tapi apakah pengendara di sekelilingnya sudah seahli dia? Atau berkilah, toh jalannya pelan-pelan dan di pinggir. Sepinggir dan sepelan apa pun toh mereka menggunakan jalan umum. Justru karena pelan sementara di belakangnya banyak yang cepat, malahan bisa tertabrak.
Kasus menelepon sambil mengendarai motor hanyalah secuil potret keberanian (atau nekat?) orang-orang kita. Saya pernah lihat ada pekerja bangunan di ketinggian yang tidak menggunakan peralatan keselamatan standar. Alasannya ribet. Jika mengalami kecelakaan barulah ia sadar.