Sunday, December 23, 2007

Belajar dari Tenzing Norgay

Bagi pendaki gunung, tentu tahu siapa Tenzing Norgay. Namanya memang kalah populer dari Sir Edmund Hillary, orang pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, Everest. Sedangkan Tenzing adalah penduduk asli Nepal yang menjadi pemandu bagi Edmund Hillary.

Pada tanggal 29 Mei 1953 pukul 11.30, Tenzing Norgay bersama dengan Edmund Hillary berhasil menaklukkan Puncak Everest pada ketinggian 29,028 kaki di atas permukaan laut. Keberhasilan ini menjadi inspirasi dan penyemangat bagi ratusan pendaki berikutnya untuk mengikuti prestasi mereka. Pada rentang waktu tahun 1920 sampai dengan tahun 1952, tujuh tim ekspedisi yang berusaha menaklukkan Everest mengalami kegagalan.

Keberhasilan Sir Edmund Hillary pada saat itu sangat fenomenal mengingat baru berakhirnya Perang Dunia II dan menjadi semacam inspirator untuk mengembalikan kepercayaan diri bagi seluruh bangsa di dunia. Karena keberhasilannya, Sir Edmund Hillary mendapatkan gelar kebangsawanan dari Ratu Inggris yang baru saja dilantik saat itu Ratu Elizabeth II dan menjadi orang yang paling dikenal di seluruh dunia.

Tetapi di balik keberhasilan itu Tenzing Norgay memiliki peran yang sangat besar. Namun ia sangat rendah hati. Sesaat setelah Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay kembali dari Puncak Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary. Hanya satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay.

Saat ditanya soal perasaan dia yang telah menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia, Tenzing hanya menjawab sangat senang sekali. Sebagai pemandu tentu ia berjalan di depan Edmund Hillary. Jika mau, bisa saja ia menjadi sebagai orang pertama yang menjejak atap dunia itu. Namun, "Saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Edmund Hillary - Red.) untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia."

Saat ditanya mengapa ia rela membuang kesempatan emas itu? "Karena itulah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih impiannya."

Itulah sekelumit kisah tentang seorang Tenzing Norgay. Ia tidak menjadi serakah, ataupun iri dengan keberhasilan, nama besar, dan semua penghargaan yang diperoleh Sir Edmund Hillary. Ia cukup bangga dapat membantu orang lain mencapai dan mewujudkan impiannya.

Dalam kehidupan sehari-hari atau dalam dunia kerja kita secara pribadi terbiasa atau terkondisikan untuk fokus kepada diri kita sendiri. Siapa yang mendapat nama, apa yang kita dapatkan, bonus, penghargaan, insentif, dan sebagainya.

Sebagai renungan, "Bisakah kita menjadi seperti Tenzing Norgay?" Sebenarnya bukan bisa atau tidak, tapi mau atau tidak!

Friday, November 23, 2007

Bung Hatta Dan Kisah Sepatu Bally

Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

"Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri," kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

Wednesday, November 07, 2007

TETAPI, TETAPLAH

-Mother Theresa-

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di balik perbuatan baik yang kau lakukan itu.
Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.

Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois.
Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.

Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu.
Tetapi teruskanlah kesuksesanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu.
Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja.
Tetapi, janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu.
Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang.
Tetapi, teruslah berbuat baik.

Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki dan itu mungkin tidak akan pernah cukup.
Tetapi, tetap berikanlah yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau dan Tuhan. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain.
Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan baik yang kau lakukan.
Tetapi percayalah bahwa mata Tuhan tertuju pada orang-orang jujur dan Dia sanggup melihat ketulusan hatimu.

Tuesday, November 06, 2007

Pohon Oak dan Ilalang

Ada sebuah fabel tua tentang pohon oak perkasa yang telah tumbuh dan hidup selama satu abad. Setelah berdiri dengan kokoh sedemikian lamanya, pohon perkasa ini akhirnya ditumbangkan oleh badai. Ia terlempar ke dalam sungai dan hanyut terapung menuju muara.

Ketika terhanyut, pohon oak tersebut melewati barisan ilalang yang tumbuh di kelokan sungai. Sang perkasa yang telah tumbang tersebut bertanya kepada ilalang dengan penuh rasa heran. "Bagaimana engkau bisa menghadapi badai yang sedemikian ganasnya sehingga saya yang kekar, kuat, dengan akar-akar yang banyak dan menghunjam kuat ke dalam tanah saja bisa ditumbangkan?"

Ilalang berkata, "Bertahun - tahun engkau melawan dengan keras kepala angin yang bertiup ke arahmu. Engkau begitu bangga dengan kekuatanmu, sehingga engkau bertahan bergeming sedikit pun. Sementara kami, sebaliknya tidak melawan angin, kami selalu meliuk dan merunduk mengikuti datangnya angin. Kami memahami kekuatan angin, sehingga semakin keras ia bertiup, kami semakin rendah hati dan merunduk kepadanya."

Jika angin kehidupan bertiup ke arahmu, maka meliuk dan merunduklah bersamanya. Kekuatanmu mungkin bisa melawan angin kecil, tetapi jika badai kehidupan melanda, kemampuanmu untuk meliuk, bersikap rendah hati, dan merunduk bersamanyalah yang menentukan apakah engkau akan tercabut dan tumbang, atau engkau tetap berdiri di kakimu.

Mendisiplin Dengan Pukulan, Bolehkah?

Saya sering dalam situasi yang membuat saya ingin memukul anak saya. Setelah membaca ini, saya jadi mengerti apa yang mesti saya lakukan. Makanya, saya mencoba berbagi semoga kiat berikut ini berguna bagi pembaca.

Salam,
me@milis
================
Ini adalah pertanyaan banyak orangtua jika kami menyampaikan ceramah parenting di berbagai tempat. Bolehkah kita memukul anak?

Kebanyakan kita belajar mendisiplinkan orang dari orangtua kita dulu. Jika orangtua kita ringan tangan, ada kecenderungan kita melakukan hal yang sama pada anak kita. Kalau sang Ibu cerewet dalam mengasuh anak, maka anak perempuannya mengadopsinya dan menjadi cerewet pula. Seperti pepatah Inggris mengatakan "like mother like daughter", atau pepatah kita berkata "buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya".

Zaman anak-anak kita sekarang tentu berbeda dari zaman kita kecil dulu. Perkembangan tekonologi misalnya sangat mengubah format emosi dan berpikir anak-anak kita. Zaman sekarang banyak ibu yang bekerja di luar rumah dan berakibat waktu ibu dengan anak sangat sedikit. Jarak rumah dan tempat kerja juga jauh, terutama di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, sehingga orangtua berangkat pagi dan pulang malam dalam keadaan lelah. Belum lagi jika hubungan ayah-ibu tidak harmonis atau berbeda dalam cara mendidik. Hal-hal ini menimbulkan emosi-emosi negatif yang kalau kita tidak waspada, bisa kita timpakan kepada anak-anak kita.

Alasan Memukul
Umumnya kita memukul anak karena kita marah. Sering kemarahan orangtua sedemikian hebat sehingga pukulan yang diberikan cenderung tanpa pikir panjang dan berlebihan, atau impulsif. Setelah memukul kebanyakan orangtua menjadi sangat menyesal; tetapi tidak berdaya. Kebanyakan orangtua sebenarnya tidak tega memukul anak mereka. Tapi orangtua menganggap kalau dibiarkan, anak bisa jadi lebih nakal. Akhirnya, mau tidak mau, pukulanlah yang orangtua pikir dapat memperbaiki tingkah laku anak-anak mereka.

Pukulan-pukulan berakibat negatif pada anak-anak. Pada tataran terendah mereka akan malu, apalagi kalau ada orang lain (pembantu, adik-kakak, keluarga lain, teman) yang melihat mereka dipukul. Anak yang dipukul dapat membuat mereka menyalahkan diri sendiri. Mereka menjadi susah dan sedih, sebab dalam hati kecil mereka umumnya mengasihi orangtua, tetapi dia merasa telah membuat orangtua susah. Pada dasarnya seorang anak belum tahu bagaimana caranya menyenangkan orangtuanya. Akhirnya si anak menjadi kesal terhadap dirinya sendiri.

Perasaan-perasaan ini menumbuhkan kebingungan dan rasa marah dalam diri anak, baik terhadap dirinya sendiri maupun orangtuanya. Jika pemukulan, kemarahan, caci-maki, penghinaan, dan sebagainya terus dilakukan, anak ini tumbuh dengan harga diri yang rendah (inferior). Sepanjang hidupnya dia memendam kemarahan pada orangtuanya tetapi tidak tahu cara menyalurkannya. Dia ingin membalas, tapi jelas tidak mungkin. Maka satu-satunya cara yang dia lakukan (di bawah alam sadar tentunya) dia malah ingin membuat orangtuanya menjadi susah, lantas marah, dan kembali memukulnya. Demikian terus-menerus, sehingga pukulan menjadi hal yang dinanti-nantikannya . Dia senang kalau orangtuanya marah. Inilah bentuk pembalasan dendamnya atas kekasaran orangtuanya sendiri.

Memukul, Alternatif Terakhir
Kalau SANGAT terpaksa, orangtua boleh memukul anak, dengan perkataan lain pukulan adalah alternatif terakhir. Sebab pada dasarnya banyak cara mendisiplinkan anak, misalnya: tidak mengizinkan anak nonton TV untuk beberapa saat, mengurangi atau bahkan mencabut jam bermain game, tidak mengizinkan main ke rumah teman sementara waktu, mengurangi uang jajan, dan lain-lain.

Kalau terpaksa memukul hendaknya dilakukan dengan baik, dengan tujuan memperbaiki tingkah laku anak, bukan untuk melampiaskan emosi negatif orangtua. Intinya, jangan memukul saat Anda marah. Sebaiknya kalau Anda sedang sangat marah pada anak, masuklah ke kamar, lakukanlah self-talk, "Tuhan, saya sedang sangat marah pada anak saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Tolong saya untuk menyampaikan kemarahan saya dengan baik dan benar. Berkati anak saya. Amin."

Mendisiplinkan anak sebaiknya dilakukan sejak mereka masih sangat kecil, sedini mungkin. Mulailah dengan mengajarkan disiplin dalam bentuk cerita. Selain cerita, kita bisa mengajarkan hal-hal baik pada anak lewat obrolan, pergaulan, simulasi, dan sebagainya. Hal ini kami jelaskan dalam buku kami Membangun Karakter Anak Lewat Cerita.

Perlu disadari bahwa ada hubungan antara kecerdasan emosi dengan perilaku disiplin orangtua yang baik. Orangtua yang cerdas secara emosi akan menemukan cara mendisiplin anak dengan benar. Mendisiplin dengan pukulan bisa dilakukan sampai anak berusia 10 tahun. Lewat usia itu, hindarkanlah memukul anak. Kami sendiri jarang sekali memukul anak karena memiliki cara mendisiplin lain yang lebih efektif pada anak-anak kami.

Procedure and Rules
Di sekolah anak saya berlaku yang namanya procedures and rules. Guru membuat prosedur untuk ke toilet dengan mengacungkan dua jari, artinya: "I want to pee." Tapi kalau sudah mendesak anak boleh melambaikan tiga jarinya. Itu artinya: "Sudah enggak tahan, Miss." Guru mengangguk, si anak boleh keluar kelas. Cara ini meminimalkan keributan di kelas. Kalau anak-anak ingin pindah kelas (sekolah menggunakan cara moving class), ada prosedurnya. Kalau masih lupa, diulangi lagi. Ini yang namanya prosedur. Guru tidak boleh memberikan hukuman kepada siswa kalau dia melanggar prosedur.

Prosedur bisa diterapkan di rumah. Misalnya ada prosedur sebelum tidur, yaitu ganti baju, sikat gigi, cuci kaki, berdoa. Bagaimana prosedur makan? Beri anak giliran menyiapkan meja, atur piring dan perlengkapannya. Setelah masing-masing duduk, ayah berdoa; barulah makan. Setelah makan, anak-anak menaruh piring di tempat cuci, ada yang mencuci, ada yang membereskan meja, dan seterusnya.

Mungkin awalnya agak sulit. Jika prosedur ini sudah menjadi kebiasaan yang diterapkan di rumah, orangtua bisa lebih lega. Saat anak lupa, kita hanya perlu berkata, "Prosedur... .," maka anak kita sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Berbeda dengan rules. Rules adalah peraturan. Kalau peraturan dilanggar, ada sanksinya. Anak-anak kecil umumnya tidak perlu diberi peraturan. Karena, jika mereka sudah mengikuti prosedur dengan baik, tidak ada lagi yang bersifat peraturan. Bagi remaja, kita perlu memberi peraturan jam malam, misalnya. Atau aturan main game dibatasi 1-2 jam, dan seterusnya. Kalau dilanggar, beritahukan sanksinya kepada mereka. Tanpa omelan, jika remaja kita melanggar peraturan, terapkanlah sanksi untuk mereka.

Kalau Anda mengalami kesulitan dalam mendisiplinkan anak, pelajarilah psikologi perkembangan anak, cari bantuan konselor keluarga. Juga ikuti kelas-kelas parenting seperti yang kami lakukan kepada ribuan orangtua. Akhirnya, berikanlah lebih banyak waktu kepada mereka. (*)

Roswitha dan Julianto Simanjuntak
*) Julianto Simanjuntak dan Roswitha adalah pendiri dan ketua Layanan Konseling Keluarga dan Karier (LK3). Penulis buku laris Seni Merayakan Hidup Yang Sulit. Bisa dihubungi di tel: (021) 5565 8224 dan 5608477. HP.081932123738. Website : www.lk3web.info. Rutin mengasuh Institut Konseling & Parenting Terapan LK3 di pelbagai kota secara tatap muka maupun Jarak Jauh, belajar ratusan tema parenting dan konseling. Motto: Orang Bijak Peduli Konseling.

Jangan Hanya Tahu, Tapi Selalu Sadar!

Seorang pria mendatangi sang Guru, "Guru, saya sudah
bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apa pun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati saja."

Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."

"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu dinamakan Alergi Hidup."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut
mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini?
Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan.
Kemudian kita gagal, kecewa, dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku," kata Sang Guru.

"Tidak Guru, tidak! Saya sudah betul-betul bosan. Saya tidak ingin hidup," pria itu menolak tawaran sang guru.

"Jadi, kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"

"Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baiklah, kalau begitu maumu. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok petang. Besok malam kau akan mati dengan tenang."

Giliran pria itu jadi bingung. Setiap guru yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat hidup. Yang satu ini aneh. Ia malah menawarkan racun. Tetapi karena ia memang sudah betul-betul jemu, ia menerimanya dengan senang hati.

Sesampai di rumah, ia langsung menenggak setengah botol "obat" dari sang Guru. Ia lalu merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir , malam terakhir ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget!

Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu. "

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya dan ia tergerak untuk melakukan jalan pagi. Pulang ke rumah setengah jam kemudian, ia melihat istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya.

Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istri pun merasa aneh sekali. Selama ini, mungkin aku salah, "Maafkan aku, Sayang."

Di kantor, ia menyapa setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?" Sikap mereka pun langsung berubah. Mereka menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap perbedaan pendapat.

Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang ke rumah petang itu, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu."

Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pa, maafkan kami semua. Selama ini Papa selalu stress
karena perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Seketika hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang
sudah ia minum? Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa kok. Kau sudah sembuh!"

Jika kau hidup dalam kekinian, jika kau hidup dengan kesadaran bahwa engkau bisa mati kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Hilangkan egomu, keangkuhanmu. Jadilah lembut,selembut air, dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah jalan menuju ketenangan. Itulah kunci kebahagiaan.

Pria itu mengucapkan terima kasih, lalu pulang untuk mengulangi pengalaman sehari terakhirnya. Ia terus mengalir. Kini ia selalu hidup dengan kesadaran bahwa ia bisa mati kapan saja. Itulah sebabnya, ia selalu tenang, selalu bahagia!

Tunggu. Kita semua SUDAH TAHU bahwa kita BISA MATI KAPAN SAJA.
Tapi masalahnya: apakah kita SELALU SADAR bahwa kita BISA MATI KAPAN SAJA?

Wednesday, September 12, 2007

Saya bukan pengemis ...

Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke Jakarta. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan.

"Abang mau beli kue?" Katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajanannya.

"Tidak Dik, Abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas. Dia berlalu.

Begitu pesanan tiba, saya langsung menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

"Abang sudah makan, tak mau beli kue saya?" tanyanya tenang ketika menghampiri meja saya.

"Abang baru selesai makan Dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu dia tanya, "Tak mau beli kue saya Bang, Pak... Kakak atau Ibu." Molek budi bahasanya.

Pemilik restoran itupun tak melarang dia keluar masuk restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak tampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun
orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, duduk di kursi sopir, dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi tahu-tahu sudah berdiri di samping mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan kaca jendela. Membalas senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin Abang perlukan kue saya untuk adik- adik, Ibu, atau Ayah Abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum.

Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengulurkan selembar uang Rp 20.000,- padanya.

"Ambil ini Dik! Abang sedekah... Tak usah Abang beli kue itu." Saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan
terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut, saya hentikan mobil, memanggil anak itu.

"Kenapa Bang, mau beli kue kah?" tanyanya.

"Kenapa Adik berikan duit Abang tadi pada pengemis itu? Duit itu Abang berikan ke Adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang, saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, Mak pasti marah. Kata Mak mengemis kerja orang
yang tak berupaya, saya masih kuat Bang!" katanya begitu lancar.

Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja Bang ...."

Selepas dia memasukkan satu per satu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terpikir untuk bertanya statusnya. Anak yatimkah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu.

Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.

Thursday, August 30, 2007

Carilah Penyelesaian Yang Sederhana ...

Dalam hidup, sering kita terkecoh saat menghadapi suatu masalah. Setelah bersusah payah, sebuah penyelesaian pun kita temukan. Namun, apakah penyelesaian itu efisien dan tidak rumit? Atau justru sebaliknya, memerlukan upaya yang lebih dan malah menjadi tidak sederhana. Out of box, kata orang; dan memang, kita harus bisa keluar dari kotak yang mengungkung kita untuk memperoleh penyelesaian yang sederhana. Beberapa kasus berikut bisa menjadi cermin.

Kasus 1

Sebuah perusahaan pembuat sabun di Jepang tertimpa masalah. Salah satu pelanggannya mengirimkan keluhan sebab ia membeli sabun yang tidak ada isinya. Jadi hanya kotak sabun saja yang ia beli. Setelah dibuka isinya kosong melompong.

Segera saja pimpinan perusahaan bertanya ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Ternyata, karena sebuah keteledoran, ada satu kotak sabun yang isinya kosong namun terkirim ke bagian pengepakan.

Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor beresolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut. Petugas tadi harus memastikan bahwa kotak tidak kosong. Penyelesaian pun diperoleh, namun biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.

Bagaimana jika perusahaan tersebut tidak memiliki modal dan teknologi yang memadai? Permasalahan yang sama akan diselesaikan dengan cara yang tidak sama tentunya. Teknisi di perusahaan kecil tersebut tentu saja tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, jika kotak sabun kosong otomatis akan keluar dari jalur pengepakan karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.

Kasus 2

Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol. Tinta pulpen tidak dapat mengalir ke mata pena akibat tidak ada gravitas.

Apa yang dilakukan untuk menyelesaikan persoalan itu? Sebuah upaya bermodalkan waktu satu dekade dan modal AS$ 12 juta. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal, dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.

Mau tahu apa yang dilakukan orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!

Kasus 3

Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para
pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Pemilik apartemen tadi kemudian mengundang sejumlah pakar untuk memecahkan masalah ini.

Seorang pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Penyelesaian mudah namun butuh biaya tak sedikit. Pakar lainnya meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat. Asumsinya, semakin cepat lift, semakin cepat orang terlayani. Lagi-lagi ini butuh biaya tak sedikit.

Apa komentar pakar ketiga? "Inti dari keluhan pelanggan Anda adalah mereka merasa lama menunggu." Pakar tadi hanya menyarankan untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, agar pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan "menunggu" dan merasa "tidak menunggu lift".

Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut KISS, Keep It Simple Solution. Cari penyelesaian yang sederhana, sehingga orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun penyelsaian yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, fokuslah pada penyelesaian, dan bukan pada masalah.

Monday, August 27, 2007

Cukup Hanya ....

Ada seseorang saat melamar kerja memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah. Hal itu terlihat oleh pewawancara dan pencari kerja tersebut pun mendapatkan pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang murid magang di sebuah toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda tadi, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si murid tadi diajak kerja di tempatnya. Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

Seorang anak berkata kepada ibunya, "Ibu hari ini sangat cantik."
Sang Ibu menjawab, "Mengapa?"
"Karena hari ini Ibu sama sekali tidak marah-marah," jawab si anak.
Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata, "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras. Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur."
Petani menjawab, "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."
Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya, "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?"
Ada yang menjawab, "Cari mulai dari bagian tengah."
Ada pula yang menjawab, "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."
Yang lain menjawab, "Cari di rumput yang paling tinggi."
Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat, "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana."
Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan. "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."
Katak di pinggir jalan menjawab, "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."
Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak "pinggir jalan" sudah mati dilindas mobil yang lewat.
Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir. Semua berjalan dengan berat, sangat menderita. Hanya satu orang yang berjalan dengan gembira.
Ada yang bertanya, "Mengapa engkau begitu santai?"
Dia menjawab sambil tertawa, "Karena barang bawaan saya sedikit."
Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.

Friday, August 24, 2007

Jatuh 9 Kali, Bangkit 10 Kali

Putri kami, Sara Elizabeth, akan merayakan ulang tahun pertamanya.
Dia mulai belajar berjalan. Istri saya, Margareth, dan saya senang
tertatih-tatihduduk di lantai berseberangan, mendorong Sara untuk melangkah. Ketika dia berhasil menyelesaikan jalannya, kami
bertepuk tangan dan bersorak. Jika ia mulai jatuh, kami berusaha
menangkapnya. Jika ia jatuh, kami mendorongnya untuk bangkit lagi.

Kehidupan mirip seorang bayi yang baru belajar berjalan. Tetapi ada
juga hari-hari kesedihan, jam-jam penuh rintangan, menit-menit kesalahpahaman, dan detik- detik terhuyung-huyung. Karena jalan kehidupan berbatu, dan jalan menuju puncak terdapat banyak kelokan yang tak terduga, penting bagi Anda menyadari tiga hal tentang "Lubang Jalan" di perjalanan menuju puncak.

1. Ada Saatnya Anda Jatuh

Setiap orang yang menjalani perjalanan hidup tidak hanya memiliki hak menikmatinya tetapi juga harus mengambil risiko untuk jatuh. Ketika Anda mengambil kesempatan, Anda bisa dimangsa musuh. Seseorang yang bersedia mempertahankan sesuatu kadangkala bisa dipukul sampai jatuh. Kita kadang-kadang seperti Sara Elizabeth, menjadi ceroboh dan tergesa-gesa. Sering hal ini terjadi sebelum kita memenuhi tujuan kita. Terlihat seolah-olah kita sudah berhasil. Rintangan sudah teratasi. Bau kemenangan yang wangi menyerap udara. Tetapi
kemudian kita tersandung dan jatuh.

Beberapa tahun yang lalu, saya menonton seorang pemain rugby berlari dengan semangat melewati garis pertahanan dan dengan keterampilan dan kecepatan berlari di belakang penahan. Ketika ia mendekati garis gol, ia menghentakkan tangannya ke udara, dan bola terjatuh dari tangannya. Saya tidak pernah melupakan pandangan kaget dan kecewa di
wajahnya. Saya juga kadang-kadang ceroboh dan jatuh sebelum meraih tujuan. Saya bisa merasakan perasaannya. Kadang-kadang kurangnya pengalaman menyebabkan kita jatuh. Kadang-kadang kurangnya persiapan adalah masalahnya. Mungkin masalahnya adalah terlalu
percaya diri. Satu hal yang pasti, tanpa memperhatikan alasan jatuh, ada kalanya kita tersandung dan jatuh.

2. Makin Besar Usaha Kita, Kemungkinan Jatuh Makin Besar

Ibu saya bercerita bahwa saya mulai belajar berjalan waktu saya berumur satu tahun. Ketika saya berusaha melakukan berbagai gerakan sambil berjalan, tiba-tiba saya jatuh dan tidak mencoba berjalan lagi sampai saya berusia 16 bulan. Masalah saya adalah sebagai seorang bayi, saya mengijinkan guncangan akibat jatuh itu mengendalikan tindakan saya, bukan dikendalikan oleh keberhasilan dari penyelesaian.

3. Perbedaan Antara Keberhasilan dan Kegagalan Adalah Bagaimana Kita Bereaksi Setelah Jatuh

Jika kita terlibat dengan kehidupan dan menjadi pemain bukan penonton, rintangan kehidupan kadang-kadang akan menjegal kita. Kehidupan banyak orang menjadi kacau karena kesalahan yang mereka buat atau pengalaman buruk yang timbul di perjalanan mereka. Mereka mengijinkan rasa pahit dari kekalahan tetap tinggal di mulut mereka sampai perasaan negatif ditumpahkan. Kehidupan mereka berpusat di sekitar kejatuhan bukan kegembiraan dari perjalanan mereka.

Saya memberikan contoh klasik tentang bagaimana bereaksi terhadap kejatuhan menentukan hasil kita. Raja Saud dan Raja Daud duduk di tahta tertinggi rakyat Ibrani. Keduanya sama-sama dipilih oleh rakyat secara aklamasi dan mempunyai bakal yang luar biasa.
Keduanya sama-sama jatuh. Raja Saul membiarkan kesalahannya, mengeraskan hatinya, dan dia meninggal dengan cara yang mengerikan. Raja Daud bertobat dan memohon pengampunan Tuhan dan mengalami bertahun-tahun kepemimpinan yang berhasil setelah ia berbuat dosa
merebut istri orang dengan tipu muslihat.

Ingat!!! Kegagalan bukan terletak pada kejatuhan. Kegagalan ada karena kita membiarkan kejatuhan kita membuat kita patah semangat dan menguasai kehidupan kita. Putuskan untuk menjadi seperti teman kuliah saya yang berdiri dan berkata, "Aku TIDAK PERNAH jatuh. Aku hanya TETAP BERDIRI ATAU BANGKIT LAGI!!!"

(TIME OUT! John C. Maxwell)

Wednesday, August 22, 2007

A Leader's Heart

A teacher of fourth grade in local school called her students to present about their essays. Topic given was what will make you become a great leader.

Pitt, the charming boy of 9 said, "It's my ability to lead. Dad said I was born a leader. I know what my strengths are."

Jessica, the school's little artist said, "I tend to look at things from different perspectives. I see things differently. I guess great leader needs something."

Marty, the school's spoiled brat, "I can tell people to do what I want. Leader can make people do something."

Andre, the girl who lives on a wheelchair said, "I am a grateful person, a leader will not complain. I will set that role model."

Kim, a girl from minority race reveals, "I accept people for who they are. I will not judge them for their colors."

Momo, the class smartest boy, "Knowledge. I have read so many books, with knowledge I can help to build better community."

Bain, the rebellious declared, "Freedom. I value freedom. I will let people choose whatever they want. Democracy is unbeatable."

The teacher shook her head and went around the class. Hoping for a different answer, "I guess that has answered many of our questions of great leadership. Is there anything else?"

"Heart", a small perky voice shattered the whole class.

Lidya, the uhm - mediocre - one shouted, "I have the servant heart. Mom said it's valuable element to lead. I may not be the smartest. I agree I am not the best speaker. I can tell that I still need to lead diligently. I have to find out more what my strengths are. No one has ever told me I was born a leader. I am still figuring out what might work for our communities and how to help them better. But I guess I would like to start with the servant heart and learn all the elements I need if I want to lead."

The teacher smiled and asked, "What are the challenges Lidya?"

The girl answered in confidence, "To guard it, Ma'am. To guard my heart."

Cinta & Kawan

Satu hari Cinta dan Kawan berjalan dalam kampung. Tiba-tiba Cinta terjatuh dalam telaga. Kenapa? Kerena Cinta itu buta.

Lalu Kawan pun ikut terjun dalam telaga. Kenapa? Karena Kawan akan berbuat apa saja demi Cinta!!

Di dalam telaga Cinta hilang. Kenapa? Karena Cinta itu halus, mudah hilang kalau tak dijaga, sukar dicari. Apa lagi dalam telaga yang gelap.

Sedangkan Kawan masih terus mencari-cari kemana gerangan Cinta. Ia terus menunggu. Kenapa? Karena Kawan itu sejati dan akan kekal sebagai Kawan yang setia.

Maka, hargailah Kawan kita.
Meski kita sudah memiliki pasangan, teman tetap yang paling setia.
Meski kita dilimpahi harta tak terkira, teman tetap yang paling berharga.

Bola dalam kantung kertas

Seorang pemain profesional bertanding dalam sebuah turnamen golf. Ia baru saja membuat pukulan yang bagus sekali yang jatuh di dekat lapangan hijau. Ketika ia berjalan di fairway, ia mendapati bolanya masuk ke dalam sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang mungkin dibuang sembarangan oleh salah seorang penonton. Bagaimana ia bisa memukul bola itu dengan baik?

Sesuai dengan peraturan turnamen, jika ia mengeluarkan bola dari kantong kertas itu, ia terkena pukulan hukuman. Tetapi kalau ia memukul bola bersama-sama dengan kantong kertas itu, ia tidak akan bisa memukul dengan baik. Salah-salah, ia mendapatkan skor yang lebih buruk lagi. Apa yang harus dilakukannya?

Banyak pemain mengalami hal serupa. Hampir seluruhnya memilih untuk mengeluarkan bola dari kantong kertas itu dan menerima hukuman. Setelah itu mereka bekerja keras sampai ke akhir turnamen untuk menutup hukuman tadi.

Hanya sedikit, bahkan mungkin hampir tidak ada, pemain yang memukul bola bersama kantong kertas itu. Resikonya terlalu besar. Namun, pemain profesional kita kali ini tidak memilih satu di antara dua kemungkinan itu.

Tiba-tiba ia merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan sekotak korek api. Lalu ia menyalakan satu batang korek api dan membakar kantong kertas itu. Ketika kantong kertas itu habis terbakar, ia memilih tongkat yang tepat, membidik sejenak, mengayunkan tongkat, wus, bola terpukul dan jatuh persis ke dalam lobang di lapangan hijau. Bravo! Dia tidak terkena hukuman dan tetap bisa mempertahankan posisinya.
Smiley ...! Ada orang yang menganggap kesulitan sebagai hukuman, dan memilih untuk menerima hukuman itu. Ada yang mengambil resiko untuk melakukan kesalahan bersama kesulitan itu. Namun, sedikit sekali yang bisa berpikir kreatif untuk menghilangkan kesulitan itu dan menggapai kemenangan.

"Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Tuhan setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya."

How good we are could find out the best of us in solving problem, especially during under pressure?

Friday, July 13, 2007

Hidup Cuma Play dan Stop

Seorang pria membawa pulang truk baru kebanggaannya. Kemudian ia meninggalkan sejenak truk tersebut untuk melakukan kegiatan lain.

Anak lelakinya yang berumur 3 tahun sangat gembira melihat truk baru. Ia pun memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Bisa ditebak, truk baru tersebut penyok dan catnya tergores. Mendengar suar gaduh, Ayahnya berlari keluar dan kaget melihat anaknya merusak truknya. Emosinya menuntutn sang ayah untuk merebut palu dan memukul tangan anaknya dengan palu itu.

Beberapa saat setelah tenang ia baru sadar dan segera membawa anaknya ke rumah sakit. Dokter telah berupaya menyelamatkan jari-jari anak itu namun tetap gagal. Akhirnya sang dokter memutuskan untuk melakukan amputasi semua jari pada kedua tangan anak kecil tersebut.

Ketika anak kecil itu sadar dari operasi amputasi dan jarinya telah tidak ada dan dibungkus perban, dengan polos ia berkata, "Papa, aku minta maaf tentang trukmu." Kemudian, ia bertanya, "Tetapi kapan jari-jariku akan tumbuh kembali?"

Ayahnya pulang ke rumah dan melakukan bunuh diri.

Apa yang bisa diperoleh dari cerita di atas?

Berpikirlah dahulu sebelum kau kehilangan kesabaran kepada seseorang yang kau cintai. Truk dapat diperbaiki. Tulang yang hancur dan hati yang disakiti seringkali tidak dapat diperbaiki.

Terlalu sering kita gagal untuk membedakan antara orang dan perbuatannya. Kita sering lupa bahwa mengampuni lebih besar daripada membalas dendam.

Orang dapat berbuat salah. Tetapi, tindakan yang kita ambil dalam kemarahan akan menghantui kita selamanya. Tahan, tunda, dan pikirkan sebelum mengambil tindakan. Mengampuni dan melupakan, mengasihi satu dengan lainnya.

Ingatlah, jika kau menghakimi orang, kau tidak akan punya waktu untuk mencintainya
Waktu tidak dapat kembali. Ingat, hidup bukanlah sebuah VCD Player, yang dapat di-backward dan forward. Hidup hanya memiliki tombol PLAY dan STOP saja.

Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat membayangi kehidupan kita kelak.

Cerita ini di-fwd dari temanku. Katanya sih kisah nyata yang terjadi di Amerika. Terlepas nyata atau tidak, tapi ada makna yang bisa kita petik dari cerita ini.

Monday, June 18, 2007

Berbagi

Malam itu harusnya menjadi malam yang menyenangkan bagiku. Waktu sudah merambat ke larut malam. Anak-anakku sudah tidur semua. Sembari menonton televisi, saya membaca koran hari itu. Saya terbiasa membaca koran sambil tiduran dengan kepala ditopang dua tiga bantal. Berhubung mata sudah tidak bisa diajak kompromi, saya pun menyerah. Teve kumatikan, lampu kuredupkan, dan aku mulai tidur di ruang keluarga di depan teve. Sehari-hari saya selalu nikmat tidur di sini.

Tengah malam saya dibangunkan oleh anak saya yang minta ditemani tidurnya karena ia mimpi. Saya sudah berusaha agar anak saya tidak banyak menonton teve atau VCD soal Power Rangers. Aneh, ia menyukai tayangan itu tapi takut dengan monster-monster yang muncul di sana.

Terus terang saya kesal dan mulai menawar untuk mengawasi tidurnya. Kebetulan ruang keluarga tempat aku tidur bersebelahan dengan ruang tidurnya. Namun ia masih merasa takut. Aku yang merasa terganggu tidurku mulai merayunya untuk berani. Entah mengapa aku selalu memaksakan pemikiranku untuk anakku. Padahal, dengan menemaninya tidur dan ketika ia sudah tidur aku bisa kembali ke ruang keluarga. Sederhana sebenarnya, namun egoku selalu membuat semua menjadi rumit.

Anakku mulai menangis dan aku justru semakin kuat memaksanya. Anakku sudah kudidik untuk tidur sendiri di kamarnya sejak Taman Kanak-kanak. Kini ia menginjak kelas 1 SD. Harusnya ia semakin tak bermasalah. Tak ingin memperpanjang keributan aku pun mengalah dan membolehkan ia tidur di sampingku.

Ia pun meminta bantal dariku, yang aku jawab untuk mengambil bantalnya sendiri. Namun ia sepertinya sudah ngambek. Aku menjadi marah tak terkendali. Kembali keluar doktrin bagaimana menjadi seorang lelaki. Kembali lagi anakku bukannya menurut dan melakukan perintahku tapi malah semakin menangis.

Sambil marah-marah aku pun bangkit dan mengambil bantal dari kamarnya dan membanting ke depan dia. Aku sendiri benar-benar kaget dapat melakukan hal itu. Namun entah kemarahan apa yang membuatku bisa melakukan hal itu. Anakku sepertinya juga kaget, dia terus diam.

Dalam sesenggukan ia hanya berujar, "Mengapa Bapak menyuruh Bagas untuk selalu berbagi mainan dengan adik sementara Bapak tidak mau berbagi?"

Aku tercekat. Aku memang selalu menyuruhnya untuk berbagi apa saja dengan adiknya. Aku melihat ia selalu menguasai mainan yang aku belikan, meski aku membelikannya untuk si adik.

Pagi hari aku langsung meminta maaf ke anakku. Sungguh, aku ternyata masih harus belajar untuk lebih sabar lagi.

Wednesday, May 23, 2007

Pesan yang berharga

Setiap hari dalam hidupmu adalah istimewa ....

Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan pakaian dalam dan membuka bungkusan berbahan sutra "Ini ...," dia berkata, "Bukan bungkusan yang asing lagi."

Dia membuka kotak itu dan memandang pakaian dalam sutra serta kotaknya. "Istriku mendapatkan ini ketika pertama kali kami pergi ke New York, 8 atau 9 tahun yang lalu. Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini. Karena menurut dia, hanya akan digunakan untuk kesempatan yang istimewa."

Dia melangkah dekat tempat tidur dan meletakkan bungkusan hadiah di dekat pakaian yang dia pakai ketika pergi ke pemakaman.

Istrinya baru saja meninggal.

Dia menoleh padaku dan berkata: "JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN ISTIMEWA. SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH KESEMPATAN YANG ISTIMEWA!"

Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya mengubah hidupku. Sekarang aku lebih banyak membaca dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di sofa tanpa khawatir tentang apa pun. Aku meluangkan waktu lebih banyak bersama keluargaku dan mengurangi waktu bekerjaku.

Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi sumber pengalaman supaya bisa hidup, tidak semata-mata supaya bisa survive (bertahan hidup) saja. Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu. Aku menggunakan gelas-gelas kristal setiap hari. Aku akan mengenakan pakaian baru untuk pergi ke supermarket, jika aku menyukainya. Aku tidak menyimpan parfum specialku untuk kesempatan istimewa, aku menggunakannya ke mana pun aku menginginkannya.

Kata-kata "Suatu hari ...." dan "Satu saat nanti ...." sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat, mendengar, dan melakukan sesuatu ternyata bisa menjadi berharga, aku ingin melihat, mendengar, atau melakukannya sekarang. Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku apabila dia tahu dia tidak akan ada di sana pagi berikutnya. Ini yang tak seorang pun mampu mengatakannya.

Aku berpikir, dia mungkin sedang menelepon rekan-rekannya serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia menelepon teman lama untuk berdamai atas perselisihan yang pernah mereka lakukan. Aku suka berpikir bahwa dia mungkin pergi makan martabak spesial, makanan favoritnya.

Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan aku sesali jika tak aku lakukan, jika aku tahu waktu sudah dekat. Aku akan menyesalinya karena aku tidak akan lebih lama lagi melihat teman-teman yang akan aku temui. Juga surat-surat yang ingin aku tulis.

Suatu hari nanti aku akan menyesal dan merasa sedih, karena aku tidak sempat mengatakan betapa aku mencintai orangtuaku, saudara-saudaraku, dan teman-temanku.

Sekarang, aku mencoba untuk tidak menunda atau menyimpan apa pun yang bisa membuatku tertawa dan bisa membuatku menikmati hidup. Setiap pagi aku berkata kepada diriku sendiri bahwa hari ini akan menjadi hari istimewa. Setiap hari, setiap jam, setiap menit adalah istimewa.

Katak Yang Tuli

Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil, yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi . Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta.

Perlombaan dimulai. Secara jujur, tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa mencapai puncak menara.

Terdengar suara: "Oh, jalannya terlalu sulitttt!! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak." Atau: "Tidak ada kesempatan untuk berhasil...Menaranya terlalu tinggi...!!"

Katak-katak kecil mulai berjatuhan. Satu persatu. Kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan- lahan. Semakin tinggi dan semakin tinggi.

Penonton terus bersorak

"Terlalu sulit!!! Tak seorangpun akan berhasil!"

Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah.

Tapi ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi. Dia tak akan menyerah!
Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara. Kecuali satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak!

SEMUA katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak ini bisa melakukannya? Seorang peserta bertanya bagaimana cara katak yang berhasil menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan? Tak ada jawaban.

Ternyata... katak yang menjadi pemenang itu TULI!!!!

Kata bijak dari cerita ini adalah jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu. Selalu pikirkan kata-kata bertuah yang ada. Karena segala sesuatu yang kau dengar dan kau baca bisa mempengaruhi perilakumu!

Karena itu tetaplah POSITIVE! Yang terpenting, berlakulah TULI jika orang berkata kepadamu bahwa KAMU tidak bisa menggapai cita-citamu! Selalu berpikirlah: I can do this!

Polisi Yang Serba Salah

gak mau berpolemik soal no cantik, tapi mau berbagi cerita soal keistimewaan saja.

alkisah, suatu sore saya pulang naik motor melewati jalan jend sudirman dari senayan. seumur2 tinggal di jakarta baru kali ini aku lewat jl sudirman.
selesai acara di senayan aku mau pulang ke condet dan keluar lewat pintu samping hilton. berhubung belum pernah lewat jalan ini maka ketika ada dua motor yang masuk jalur cepat (sebelum spbu semanggi samping hilton) saya pun membuntuti. jalan sepi sebab hari sabtu. tidak ada masalah berarti sebelum sampai putaran semanggi mengarah ke gatsu. tiba2 sudah muncul polisi di atas jembatan. langsung deh diminta SIM dan diceramahi. saya baru ngeh ternyata tidak boleh lewat jalur cepat. saya berani lewat karena selain faktor ada dua motor tadi (ternyata dua pengendara motor yang saya ikuti juga baru sekali naik motor di sudirman), saya juga tidak melihat tanda larangan motor masuk jalur cepat (tanda itu adanya di ujung dekat patung pizza dan di turunan waktu mau berputar).
alhasil saya dan dua pengendara tadi pun di sidang di bawah jembatan semanggi. ternyata sejuk juga ya nongkrong di bawah jembatan semanggi. di sinilah terjadi kejadian yang menurut saya menarik. ketika polisi akhirnya meminta kami memilih untuk damai atau sidang, dua pengendara yang ternyata mahasiswa tadi mencoba mengajak berdamai sementara saya minta ditilang saja. alasan mereka tidak punya waktu untuk sidang. lucunya ketika diminat damai mau ngasih berapa, para mahasiswa ini patungan dan terkumpul 20 rb. polisinya langsung bilang, "Dik, denda tilang masuk jalur cepat ini saja sudah bisa 30rb-an lo."
"la tapi kami cuma punya ini pak?" begitu koor mereka.
polisi pun lalu berpaling ke aku dan menanyakan apakah masih mau tilang. aku jawab iya. dia terus tanya2 soal pekerjaanku dan aku sodorkan kartu nama saja.
"wah, orang lapangan ya?" polisi tadi bertanya tanpa perlu minta jawaban dariku.
di sinilah cerita lucu (menurutku) terjadi dan membuat polisi tadi justru terjepit. mau menerima duit damai bisa jadi bahan pewartaanku, mau menilang mahasiswa ia merasa kasihan. akhirnya polisi tadi pun bilang ke mahasiswa tadi, "ya sudah, bawa saja uang kalian dan lain kali hati-hati." ia pun mengembalikan SIM dua mahasiswa tadi.
ia lalu mengajakku ngobrol ngalor-kidul. setelah agak lama ngobrol, SIM-ku pun dikembalikan sambil berujar sama: "lain kali hati-hati ya. kalo ada apa2 langsung saja ke bawah sini." aku pun mengiyakan sambil lalu.

salam ngelantur...
022

Friday, March 30, 2007

Bank of Time

Imagine there is a bank that credits your account each morning with 86,400. It carries over no balance from day to day. Every evening deletes whatever part of the balance you failed to use during the day. What would you do? Draw out every cent, of course!!!!

Each of us has such a bank. Its name is TIME.

Every morning, it credits you with 86,400 seconds.

Every night it writes off, as lost, whatever of this you have failed to invest to good purpose.

It carries over no balance. It allows no overdraft.

Each day it opens a new account for you.

Each night it burns the remains of the day.

If you fail to use the day's deposits, the loss is yours.

There is no going back.

There is no drawing against the "tomorrow".

You must live in the present on today's deposits.

Invest it so as to get from it the utmost in health, happiness, and success!

The clock is running.

Make the most of today.

To realize the value of ONE YEAR, ask a student who failed a grade.

To realize the value of ONE MONTH, ask a mother who gave birth to a pre-mature baby.

To realize the value of ONE WEEK, ask the editor of a weekly newspaper.

To realize the value of ONE HOUR, ask the lovers who are waiting to meet.

To realize the value of ONE MINUTE, ask a person who missed the train.

To realize the value of ONE SECOND, ask a person who just avoided an accident.

To realize the value of ONE MILLISECOND, ask the person who won a silver medal in the Olympics.

Treasure every moment that you have! And treasure it more because you shared it with someone special, special enough to spend your time.

And remember that time waits for no one.

Main Kelereng di Hari Sabtu

(Shared by Fr. Rick of Kingston , NY)

Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena keheningan dari sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi. Atau mungkin karena tak usah masuk kerja. Apa pun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.

Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini.

Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara "Bincang-bincang Sabtu Pagi". Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telepon yang dipanggilnya "Tom". Aku tergelitik dan duduk sambil meletakkan koran karena ingin mendengarkan apa obrolannya.

"Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi 'kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat."

Ia melanjutkan: "Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang harus kulakukan dalam hidupku."

Lalu mulailah ia menerangkan teori "seribu kelereng"-nya.

"Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai berhitung. 'Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3.900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting.

"Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini," sambungnya, "dan pada saat itu aku 'kan sudah melewatkan 2.800 hari Sabtu. Aku lalu berpikir, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1.000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati.

"Lalu aku pergi ke toko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Perlu tiga toko aku kunjungi untuk memperoleh 1.000 kelereng itu. Kelereng itu au bawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya.

"Dengan mengawasi kelereng-kelereng yang menghilang itu, aku ternyata lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu.

"Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, ku keluarkan dari kotaknya. Aku berpikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah memberi aku sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi.

"Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!"

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening. Saking heningnya, jatuhnya satu jarum pun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itu pun membisu. Mungkin ia mau memberi kesempatan para pendengarnya untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku berubah pikiran. Segera aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.

"Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak keluar, pergi sarapan."

"Lo, ada apa ini ...?" tanya istriku kaget.

"Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial," jawabku, "'Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli ke lereng."

Tuesday, March 20, 2007

Belajar dari Pohon Apel

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.

Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu.

"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang ... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. "

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.

"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu jug a merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi ka u boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah. " Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.
"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," ujar pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. "

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Lalu, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Friday, March 02, 2007

Bagaimana Memaknai Sebuah Pekerjaan ...

"Jika seseorang diberi tanggung jawab untuk menjadi penyapu jalan, ia harus melakukan tugasnya seperti apa yang dilakukan oleh pelukis Michelangelo, atau seperti Beethoven mengkomposisikan musiknya, atau seperti Shakespeare menulis sajaknya. Ia harus menyapu jalansedemikian baiknya, sehingga semua penghuni surga dan bumi berhenti sejenak dan berkata, di sini hidup seorang penyapu jalan jempola n yang melakukan tugasnya dengan baik".- Martin Luther King -

===
Pada suatu hari, tampak tiga orang tukang batu yang sedang bekerja keras membangun suatu bangunan. Tukang pertama, yang berada di paling ujung ditanya, "Apa yang sedang Anda kerjakan, dan bagaimana perasaan Anda melakukan kerja ini ?" Dia menjawab "Saya sedang menata batu-batu ini menjadi sebuah tembok. Malas juga sebenarnya melakukan kerja ini. Kalau ada pekerjaan lain yang lebih enak, secepatnya saya akan pindah".

Tukang kedua, yang berada di sebelahnya juga ditanya pertanyaan yang sama, dan dia menjawab dengan bersungut-sungut, "Saya melakukan suatu tugas senilai Rp 50.000,- sehari. Dengan tugas seberat ini dan kami harus melakukannya sepanjang hari, seharusnya kami digaji dua kali lipat. Kami merasa hanya sebagai sapi perah, dipaksa bekerja keras, dan nantinya mereka yang mendapatkan hasil paling banyak ...."

Tukang ketiga, dengan pertanyaan yang sama pula, menjawab "Saya sedang menjadi bagian dari suatu sejarah, di mana setiap detail dari bangunan ini akan saya sentuh sehingga menjadi sempurna. Kelak, apabila bangunan ini sudah jadi, saya akan mengajak anak saya berjalan-jalan di depannya, dan bisa berkata dengan bangga pada anak saya, bahwa di balik bangunan megah ini, ada sentuhan dari ayahnya yang membuatnya menjadi sempurna ...."

Menarik untuk mengambil makna dari cerita diatas. Jika cerita tersebut ditarik ke dalam kehidupan karir Anda,
tukang batu yang manakah yang mirip dengan situasi Anda saat ini
?

Tipe tukang pertama adalah mereka yang diistilahkan sebagai OPERATOR . Mereka akan menjalankan tugas berdasarkan apa yang diperintahkan oleh atasan, tapi tidak pernah berpikir apa tujuan yang ingin dicapai dari apa yang mereka lakukan tersebut.

Tipe tukang kedua diistilahkan sebagai MONEY-ACTION VALUATOR. Mereka selalu menilai apa yang mereka kerjakan dengan sejumlah uang. Seringkali orang-orang seperti ini mengeluh tentang kecilnya penghasilan mereka dibanding dengan kerja yang mereka lakukan, tanpa mereka mau melakukan perbaikan.

Sedang tipe ketiga adalah seorang
VISIONER
, yang mampu melihat ke depan, manfaat besar apa yang bisa mereka raih dari hal-hal kecil yang mereka lakukan saat ini.

Sebagai seorang profesional misalnya, kita mempunyai banyak rekan kerja yang sama dengan kita . Tapi MAKNA dari pekerjaan yang kita lakukan setiap hari, akan menggerakkan ATTITUDE kita, dan memberikan HASIL yang berbeda dalam jangka panjang. Pertanyaan penting sebelum anda memulai perjalanan karir Anda menuju sukses adalah, "Apakah pekerjaan yang anda lakukan sekarang merupakan pekerjaan yang Anda dambakan dan senangi ? Adakah rasa bangga terhadap apa yang Anda kerjakan sekarang ? Jika tidak, maka hanya ada dua pilihan, yaitu berusaha untuk mencintainya atau keluar dari pekerjaan Anda sekarang dan mencari pilihan karir lain yang sesuai dengan keinginan Anda . Jika Anda memaksakan bekerja di bidang yang membuat Anda merasa tertekan sepanjang hari, hanya karena tidak ada perusahaan lain yang mau menerima Anda, maka bersiaplah untuk menderita lebih lama lagi.

Bagaimana jika kita bekerja karena uang, bukankah memang uang adalah salah satu pendorong kita bekerja? Memang benar. Tapi kita juga perlu menyadari bahwa
uang adalah HASIL AKHIR dari suatu tindakan yang kita lakukan sebelumnya. Yang perlu kita renungkan di sini adalah bagaimana attitude kita dalam melakukan tindakan sehari-hari, sebelum kita menerima upah kita di akhir bulan.Jika kita hanya menyukai uangnya, bukan pekerjaannya, maka kita akan dengan mudah menyerah dan mungkin mencoba-coba mencari lowongan baru jika merasa sudah mentok, atau ada halangan yang menghadang di depan.

Orang-orang yang mencintai pekerjaannya, selalu mencari tantangan baru di dalam karirnya. Jika mereka merasa tantangan mereka di kantor sudah mentok, barulah mereka mencoba mencari hal-hal baru yang bisa ditingkatkan dari profesi mereka. Sayang sekali memang, jumlah orang seperti ini tidak begitu banyak. Kualitas orang seperti ini begitu menonjol dibanding rekan-rekannya, bahkan kualitasnya seringkali terdengar hingga keluar perusahaan. sehingga tidak mengherankan jika banyak perusahaan lain yang juga tertarik dan
berusaha membajaknya untuk pindah ke tempat lain . Mereka pun jika akhirnya mau berpindah, bukan hanya karena iming-iming uang yang menggiurkan, tapi karena mereka juga melihat kesempatan di tempat lain sehingga mereka mempunyai peluang untuk menjawab tantangan yang lebih besar.

Akhir kata, cobalah untuk melihat ke dalam diri anda saat ini. Apakah makna pekerjaan bagi anda saat ini ? Dan termasuk tipe manakah cara kerja Anda: operator, money-action valuator, ataukah visioner ? Belum terlambat untuk mulai berubah dan mencintai pekerjaan Anda, serta melakukan yang terbaik demi kesuksesan karir Anda ke depan.
Sukses untuk anda !

SONNY VINN

Motivational Speaker, Associate Partner The Acesia Penulis buku best seller "SLAM DUNK For SUCCESS"


Monday, February 19, 2007

Pemberani atawa Nekat?

Untuk kesekian kalinya aku melihat orang menelepon sambil mengendarai motor. Kali ini aku menjumpainya di depan Carrefour MT Haryono di lajur ke-2. Situasi jalan memang masih tergolong sepi, maklum masih pukul 07.00 lebih dikit. Pertama saya pikir dia membaca SMS di ponselnya sebab tangan kirinya sibuk memencet-mencet tombol sambil matanya berakrobat naik turun: sesekali melihat jalanan, selintas kemudian melihat layar ponsel. Saya pun membuntuti sambil mengklaksonnya.

Ketika kemudian ia mengangkat ponselnya dan menelisipkan ujung telepon itu ke sela-sela telinga yang tertutup helm setengah wajah itu baru tahu aku kalau ia mau menelepon. Sebuah manuver yang hebat namun berisiko sebab meski ia mengendarai motor bebek yang bisa dikendalikan dengan satu tangan, namun berbagi konsentrasi dan juga tenaga antara bertelepon dan mengendarai motor jelas bukan pekerjaan mudah. Saya pun memencet klakson kembali dan ia merasa terganggu atau sadar diri, pindah jalur di paling kiri. Tadinya aku berpikir ia akan berhenti, ternyata tidak. Ah, aku pun masa bodoh dan melajukan motorku meninggalkan orang yang bertelepon tadi.

Saya tidak habis pikir, mengapa orang-orang itu (banyak yang pernah aku lihat, baik yang menelepon seperti di atas atau berkirim SMS) tidak berpikir bahwa tindakannya itu membahayakan orang lain. Selain tentu saja dirinya sendiri. Mereka bisa saja bilang sudah ahli "menyetir" motor, tapi apakah pengendara di sekelilingnya sudah seahli dia? Atau berkilah, toh jalannya pelan-pelan dan di pinggir. Sepinggir dan sepelan apa pun toh mereka menggunakan jalan umum. Justru karena pelan sementara di belakangnya banyak yang cepat, malahan bisa tertabrak.

Kasus menelepon sambil mengendarai motor hanyalah secuil potret keberanian (atau nekat?) orang-orang kita. Saya pernah lihat ada pekerja bangunan di ketinggian yang tidak menggunakan peralatan keselamatan standar. Alasannya ribet. Jika mengalami kecelakaan barulah ia sadar.