Malam itu harusnya menjadi malam yang menyenangkan bagiku. Waktu sudah merambat ke larut malam. Anak-anakku sudah tidur semua. Sembari menonton televisi, saya membaca koran hari itu. Saya terbiasa membaca koran sambil tiduran dengan kepala ditopang dua tiga bantal. Berhubung mata sudah tidak bisa diajak kompromi, saya pun menyerah. Teve kumatikan, lampu kuredupkan, dan aku mulai tidur di ruang keluarga di depan teve. Sehari-hari saya selalu nikmat tidur di sini.Tengah malam saya dibangunkan oleh anak saya yang minta ditemani tidurnya karena ia mimpi. Saya sudah berusaha agar anak saya tidak banyak menonton teve atau VCD soal Power Rangers. Aneh, ia menyukai tayangan itu tapi takut dengan monster-monster yang muncul di sana.
Terus terang saya kesal dan mulai menawar untuk mengawasi tidurnya. Kebetulan ruang keluarga tempat aku tidur bersebelahan dengan ruang tidurnya. Namun ia masih merasa takut. Aku yang merasa terganggu tidurku mulai merayunya untuk berani. Entah mengapa aku selalu memaksakan pemikiranku untuk anakku. Padahal, dengan menemaninya tidur dan ketika ia sudah tidur aku bisa kembali ke ruang keluarga. Sederhana sebenarnya, namun egoku selalu membuat semua menjadi rumit.
Anakku mulai menangis dan aku justru semakin kuat memaksanya. Anakku sudah kudidik untuk tidur sendiri di kamarnya sejak Taman Kanak-kanak. Kini ia menginjak kelas 1 SD. Harusnya ia semakin tak bermasalah. Tak ingin memperpanjang keributan aku pun mengalah dan membolehkan ia tidur di sampingku.
Ia pun meminta bantal dariku, yang aku jawab untuk mengambil bantalnya sendiri. Namun ia sepertinya sudah ngambek. Aku menjadi marah tak terkendali. Kembali keluar doktrin bagaimana menjadi seorang lelaki. Kembali lagi anakku bukannya menurut dan melakukan perintahku tapi malah semakin menangis.
Sambil marah-marah aku pun bangkit dan mengambil bantal dari kamarnya dan membanting ke depan dia. Aku sendiri benar-benar kaget dapat melakukan hal itu. Namun entah kemarahan apa yang membuatku bisa melakukan hal itu. Anakku sepertinya juga kaget, dia terus diam.
Dalam sesenggukan ia hanya berujar, "Mengapa Bapak menyuruh Bagas untuk selalu berbagi mainan dengan adik sementara Bapak tidak mau berbagi?"
Aku tercekat. Aku memang selalu menyuruhnya untuk berbagi apa saja dengan adiknya. Aku melihat ia selalu menguasai mainan yang aku belikan, meski aku membelikannya untuk si adik.
Pagi hari aku langsung meminta maaf ke anakku. Sungguh, aku ternyata masih harus belajar untuk lebih sabar lagi.