Pagi ini aku jadi teringat dengan Kiky, temenku di klub DTC. Gara-gara simeta (silver metalik taruna)-ku tersenggol motor yang mau nyelip tapi maksa keluarlah sumpah serapah. Untung, aku tidak puasa sehingga berbeda kondisi dengan Kiky yang kemudian merasa bahwa puasanya telah gagal setengah. (Emangnya bisa ya batal cuma setengah hehe... Maaf ya Ky, cuma komentar saja kok).
Tapi yang bikin kesal dan dongkol adalah si pengendara cuek saja meski sudah tak teriaki. Tanpa rasa bersalah ia melaju dengan kencangnya. Andai bisa kukejar jelas akan aku kejar dan aku pepet. Bukan persoalan kerusakan atau baret di mobil. Tapi ini sudah menyangkut perilaku! Apa salahnya menoleh dan senyum atau mengangkat tangan buat permintaan maaf?
Terus terang, saya sendiri juga sering menggunakan motor. Kejadian menyenggol mobil pun pernah menimpaku. Namun aku mencoba berhenti dan senyum atau bahasa tubuh yang menandakan perasaan bersalah. Meski terkadang ngeri juga sebab siapa tahu malah dijadikan sasaran kemarahan. Namun aku berpikiran bahwa apa yang diawali dengan niat baik pasti hasilnya baik.
Saya bukannya mau sok sopan atau apalah sebutannya. Cuma hanya ingin berusaha menata kehidupan pada rel yang benar. Ikut arus dalam hal ini bukanlah tipeku. Ketika lampu masih menyala merah, aku keukeuh memarkir si kilmer (kilat merah alias red thunder) di belakang garis stop. Masa bodoh dengan klakson bertubi-tubi dari angkot di belakangku. Bahkan ia mengajak berkonfrontasi dengan menyundul-nyundulkan bemper bututnya ke bagian belakang motorku. Aku hanya menoleh dan si sopir pura-pura tidak tahu. Tapi aku pernah kesal dan motor kumatikan. Si sopir aku datangi. Dia cuma diam seribu bahasa. Apalagi terucap kata "maaf".
Sejujurnya, saya sebenarnya takut juga melakukan hal itu. Saya sadar si sopir ingin mencari rit sebanyak-banyaknya. Ia menghitung waktu yang terbuang berarti setoran berkurang. Namun apakah kemudian menihilkan peraturan yang dimaksudkan untuk menjaga keselamatan orang banyak?
Kata "maaf" sekarang ini sudah semakin mahal. Atau susah? Entahlah!
No comments:
Post a Comment