Friday, August 24, 2007

Jatuh 9 Kali, Bangkit 10 Kali

Putri kami, Sara Elizabeth, akan merayakan ulang tahun pertamanya.
Dia mulai belajar berjalan. Istri saya, Margareth, dan saya senang
tertatih-tatihduduk di lantai berseberangan, mendorong Sara untuk melangkah. Ketika dia berhasil menyelesaikan jalannya, kami
bertepuk tangan dan bersorak. Jika ia mulai jatuh, kami berusaha
menangkapnya. Jika ia jatuh, kami mendorongnya untuk bangkit lagi.

Kehidupan mirip seorang bayi yang baru belajar berjalan. Tetapi ada
juga hari-hari kesedihan, jam-jam penuh rintangan, menit-menit kesalahpahaman, dan detik- detik terhuyung-huyung. Karena jalan kehidupan berbatu, dan jalan menuju puncak terdapat banyak kelokan yang tak terduga, penting bagi Anda menyadari tiga hal tentang "Lubang Jalan" di perjalanan menuju puncak.

1. Ada Saatnya Anda Jatuh

Setiap orang yang menjalani perjalanan hidup tidak hanya memiliki hak menikmatinya tetapi juga harus mengambil risiko untuk jatuh. Ketika Anda mengambil kesempatan, Anda bisa dimangsa musuh. Seseorang yang bersedia mempertahankan sesuatu kadangkala bisa dipukul sampai jatuh. Kita kadang-kadang seperti Sara Elizabeth, menjadi ceroboh dan tergesa-gesa. Sering hal ini terjadi sebelum kita memenuhi tujuan kita. Terlihat seolah-olah kita sudah berhasil. Rintangan sudah teratasi. Bau kemenangan yang wangi menyerap udara. Tetapi
kemudian kita tersandung dan jatuh.

Beberapa tahun yang lalu, saya menonton seorang pemain rugby berlari dengan semangat melewati garis pertahanan dan dengan keterampilan dan kecepatan berlari di belakang penahan. Ketika ia mendekati garis gol, ia menghentakkan tangannya ke udara, dan bola terjatuh dari tangannya. Saya tidak pernah melupakan pandangan kaget dan kecewa di
wajahnya. Saya juga kadang-kadang ceroboh dan jatuh sebelum meraih tujuan. Saya bisa merasakan perasaannya. Kadang-kadang kurangnya pengalaman menyebabkan kita jatuh. Kadang-kadang kurangnya persiapan adalah masalahnya. Mungkin masalahnya adalah terlalu
percaya diri. Satu hal yang pasti, tanpa memperhatikan alasan jatuh, ada kalanya kita tersandung dan jatuh.

2. Makin Besar Usaha Kita, Kemungkinan Jatuh Makin Besar

Ibu saya bercerita bahwa saya mulai belajar berjalan waktu saya berumur satu tahun. Ketika saya berusaha melakukan berbagai gerakan sambil berjalan, tiba-tiba saya jatuh dan tidak mencoba berjalan lagi sampai saya berusia 16 bulan. Masalah saya adalah sebagai seorang bayi, saya mengijinkan guncangan akibat jatuh itu mengendalikan tindakan saya, bukan dikendalikan oleh keberhasilan dari penyelesaian.

3. Perbedaan Antara Keberhasilan dan Kegagalan Adalah Bagaimana Kita Bereaksi Setelah Jatuh

Jika kita terlibat dengan kehidupan dan menjadi pemain bukan penonton, rintangan kehidupan kadang-kadang akan menjegal kita. Kehidupan banyak orang menjadi kacau karena kesalahan yang mereka buat atau pengalaman buruk yang timbul di perjalanan mereka. Mereka mengijinkan rasa pahit dari kekalahan tetap tinggal di mulut mereka sampai perasaan negatif ditumpahkan. Kehidupan mereka berpusat di sekitar kejatuhan bukan kegembiraan dari perjalanan mereka.

Saya memberikan contoh klasik tentang bagaimana bereaksi terhadap kejatuhan menentukan hasil kita. Raja Saud dan Raja Daud duduk di tahta tertinggi rakyat Ibrani. Keduanya sama-sama dipilih oleh rakyat secara aklamasi dan mempunyai bakal yang luar biasa.
Keduanya sama-sama jatuh. Raja Saul membiarkan kesalahannya, mengeraskan hatinya, dan dia meninggal dengan cara yang mengerikan. Raja Daud bertobat dan memohon pengampunan Tuhan dan mengalami bertahun-tahun kepemimpinan yang berhasil setelah ia berbuat dosa
merebut istri orang dengan tipu muslihat.

Ingat!!! Kegagalan bukan terletak pada kejatuhan. Kegagalan ada karena kita membiarkan kejatuhan kita membuat kita patah semangat dan menguasai kehidupan kita. Putuskan untuk menjadi seperti teman kuliah saya yang berdiri dan berkata, "Aku TIDAK PERNAH jatuh. Aku hanya TETAP BERDIRI ATAU BANGKIT LAGI!!!"

(TIME OUT! John C. Maxwell)

No comments: