Tuesday, September 19, 2006

Belajar Bisa Di Mana Saja

Sebuah surat pembaca di Kompas beberapa waktu lalu mengritik kebijakan pemerintah soal pelajaran di Sekolah Dasar. Betapa anak-anak SD sekarang ini dijejali bermacam pelajaran dan melupakan hakikat anak-anak, bermain. Penulis juga membandingkan dengan sekolah dasar di Singapura yang mata pelajarannya hanya tiga macam: membaca, menulis, dan berhitung.

Mengamati mata pelajaran anak saya yang masih kelas 1 SD memang bikin saya geleng-geleng kepala. Sudah banyak, buku teksnya juga dicetak di atas kertas yang bagus. Berwarna pula! Boleh-boleh saja sih buku cetak bagus, tapi ya menurut saya kurang tepatlah. Selain harga jadi mahal, buku juga jadi tebal. Dengan tiga mata pelajaran tiap hari (kecuali Sabtu), saya selalu ngelus dada setiap membawakan tas anak saya. Saya yang dewasa saja merasa berat apalagi anak saya yang ceking begitu? Soalnya, selain buku teks masih ada buku tulis, masing-masing dua buah untuk setiap mata pelajaran. Plus satu buku tugas dan kadang-kadang buku ulangan.

Dengan banyaknya mata pelajaran, tentu banyak hapalan yang harus masuk ke kepala si anak. Sementara mereka masih mau main dengan teman macam sepakbola di gang atau main sendirian seperti play station. Ada sebagian orang tua yang bisa memaksa anaknya untuk rajin membuat PR atau belajar, namun banyak pula yang kewalahan. Alhasil, membuat PR atau belajar untuk mempersiapkan ulangan pun dilakukan dalam waktu yang seadanya.

Pagi tadi, saya menyaksikan sendiri, seorang anak usia SD belajar mata pelajaran ilmu pengetahuan saat dibonceng ayahnya dalam keberangkatan ke sekolah. Si anak asyik membolak-balik lembar demi lembar buku pelajaran tanpa memperhatikan sekitarnya. Saya terus membuntuti dan berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Lalu lintas pagi memang belum begitu ramai dan padat, tapi belajar di atas boncengan motor yang melaju tetaplah situasi yang membahayakan.

Jauh sebelumnya, dalam perjalanan mengantarkan anak saya sekolah, saya kembali membuntuti seorang Ibu yang menggandeng anaknya berjalan memasuki gang yang meghubungkan jalan raya dengan sekolah si anak. Dari jauh tidak ada yang aneh dengan pemandangan itu, seorang Ibu menggandeng anaknya dengan backpack menggantung di punggung si anak.

Namun setelah mendekat, ada yang aneh menurut saya. Sambil berjalan, si Ibu memegang buku pelajaran dan menanyakan isi buku ke anaknya. Si anak pun menjawab pertanyaan dengan lancar. Ternyata si Ibu sedang mengetes anaknya tentang pelajaran yang akan diulangkan pada hari itu. Beruntung mereka berjalan di gang yang relatif sepi dan cukup mulus jalannya. Coba kalau gang itu ramai oleh lalu lalang motor atau jalannya tidak mulus, bisa-bisa si anak bukannya hapal soal pelajaran tapi malah celaka karena keserempet motor atau terantuk batu.

Persaingan generasi mendatang memang sepertinya terasa keras. Di lain pihak banyak orang tua yang cemas tidak bisa memberi bekal yang cukup bagi buah hatinya. Maka, belajar pun dilakukan di mana saja. Asal masih ada waktu dan tenaga.

No comments: