Tuesday, November 06, 2007

Mendisiplin Dengan Pukulan, Bolehkah?

Saya sering dalam situasi yang membuat saya ingin memukul anak saya. Setelah membaca ini, saya jadi mengerti apa yang mesti saya lakukan. Makanya, saya mencoba berbagi semoga kiat berikut ini berguna bagi pembaca.

Salam,
me@milis
================
Ini adalah pertanyaan banyak orangtua jika kami menyampaikan ceramah parenting di berbagai tempat. Bolehkah kita memukul anak?

Kebanyakan kita belajar mendisiplinkan orang dari orangtua kita dulu. Jika orangtua kita ringan tangan, ada kecenderungan kita melakukan hal yang sama pada anak kita. Kalau sang Ibu cerewet dalam mengasuh anak, maka anak perempuannya mengadopsinya dan menjadi cerewet pula. Seperti pepatah Inggris mengatakan "like mother like daughter", atau pepatah kita berkata "buah apel jatuh tak jauh dari pohonnya".

Zaman anak-anak kita sekarang tentu berbeda dari zaman kita kecil dulu. Perkembangan tekonologi misalnya sangat mengubah format emosi dan berpikir anak-anak kita. Zaman sekarang banyak ibu yang bekerja di luar rumah dan berakibat waktu ibu dengan anak sangat sedikit. Jarak rumah dan tempat kerja juga jauh, terutama di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, sehingga orangtua berangkat pagi dan pulang malam dalam keadaan lelah. Belum lagi jika hubungan ayah-ibu tidak harmonis atau berbeda dalam cara mendidik. Hal-hal ini menimbulkan emosi-emosi negatif yang kalau kita tidak waspada, bisa kita timpakan kepada anak-anak kita.

Alasan Memukul
Umumnya kita memukul anak karena kita marah. Sering kemarahan orangtua sedemikian hebat sehingga pukulan yang diberikan cenderung tanpa pikir panjang dan berlebihan, atau impulsif. Setelah memukul kebanyakan orangtua menjadi sangat menyesal; tetapi tidak berdaya. Kebanyakan orangtua sebenarnya tidak tega memukul anak mereka. Tapi orangtua menganggap kalau dibiarkan, anak bisa jadi lebih nakal. Akhirnya, mau tidak mau, pukulanlah yang orangtua pikir dapat memperbaiki tingkah laku anak-anak mereka.

Pukulan-pukulan berakibat negatif pada anak-anak. Pada tataran terendah mereka akan malu, apalagi kalau ada orang lain (pembantu, adik-kakak, keluarga lain, teman) yang melihat mereka dipukul. Anak yang dipukul dapat membuat mereka menyalahkan diri sendiri. Mereka menjadi susah dan sedih, sebab dalam hati kecil mereka umumnya mengasihi orangtua, tetapi dia merasa telah membuat orangtua susah. Pada dasarnya seorang anak belum tahu bagaimana caranya menyenangkan orangtuanya. Akhirnya si anak menjadi kesal terhadap dirinya sendiri.

Perasaan-perasaan ini menumbuhkan kebingungan dan rasa marah dalam diri anak, baik terhadap dirinya sendiri maupun orangtuanya. Jika pemukulan, kemarahan, caci-maki, penghinaan, dan sebagainya terus dilakukan, anak ini tumbuh dengan harga diri yang rendah (inferior). Sepanjang hidupnya dia memendam kemarahan pada orangtuanya tetapi tidak tahu cara menyalurkannya. Dia ingin membalas, tapi jelas tidak mungkin. Maka satu-satunya cara yang dia lakukan (di bawah alam sadar tentunya) dia malah ingin membuat orangtuanya menjadi susah, lantas marah, dan kembali memukulnya. Demikian terus-menerus, sehingga pukulan menjadi hal yang dinanti-nantikannya . Dia senang kalau orangtuanya marah. Inilah bentuk pembalasan dendamnya atas kekasaran orangtuanya sendiri.

Memukul, Alternatif Terakhir
Kalau SANGAT terpaksa, orangtua boleh memukul anak, dengan perkataan lain pukulan adalah alternatif terakhir. Sebab pada dasarnya banyak cara mendisiplinkan anak, misalnya: tidak mengizinkan anak nonton TV untuk beberapa saat, mengurangi atau bahkan mencabut jam bermain game, tidak mengizinkan main ke rumah teman sementara waktu, mengurangi uang jajan, dan lain-lain.

Kalau terpaksa memukul hendaknya dilakukan dengan baik, dengan tujuan memperbaiki tingkah laku anak, bukan untuk melampiaskan emosi negatif orangtua. Intinya, jangan memukul saat Anda marah. Sebaiknya kalau Anda sedang sangat marah pada anak, masuklah ke kamar, lakukanlah self-talk, "Tuhan, saya sedang sangat marah pada anak saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Tolong saya untuk menyampaikan kemarahan saya dengan baik dan benar. Berkati anak saya. Amin."

Mendisiplinkan anak sebaiknya dilakukan sejak mereka masih sangat kecil, sedini mungkin. Mulailah dengan mengajarkan disiplin dalam bentuk cerita. Selain cerita, kita bisa mengajarkan hal-hal baik pada anak lewat obrolan, pergaulan, simulasi, dan sebagainya. Hal ini kami jelaskan dalam buku kami Membangun Karakter Anak Lewat Cerita.

Perlu disadari bahwa ada hubungan antara kecerdasan emosi dengan perilaku disiplin orangtua yang baik. Orangtua yang cerdas secara emosi akan menemukan cara mendisiplin anak dengan benar. Mendisiplin dengan pukulan bisa dilakukan sampai anak berusia 10 tahun. Lewat usia itu, hindarkanlah memukul anak. Kami sendiri jarang sekali memukul anak karena memiliki cara mendisiplin lain yang lebih efektif pada anak-anak kami.

Procedure and Rules
Di sekolah anak saya berlaku yang namanya procedures and rules. Guru membuat prosedur untuk ke toilet dengan mengacungkan dua jari, artinya: "I want to pee." Tapi kalau sudah mendesak anak boleh melambaikan tiga jarinya. Itu artinya: "Sudah enggak tahan, Miss." Guru mengangguk, si anak boleh keluar kelas. Cara ini meminimalkan keributan di kelas. Kalau anak-anak ingin pindah kelas (sekolah menggunakan cara moving class), ada prosedurnya. Kalau masih lupa, diulangi lagi. Ini yang namanya prosedur. Guru tidak boleh memberikan hukuman kepada siswa kalau dia melanggar prosedur.

Prosedur bisa diterapkan di rumah. Misalnya ada prosedur sebelum tidur, yaitu ganti baju, sikat gigi, cuci kaki, berdoa. Bagaimana prosedur makan? Beri anak giliran menyiapkan meja, atur piring dan perlengkapannya. Setelah masing-masing duduk, ayah berdoa; barulah makan. Setelah makan, anak-anak menaruh piring di tempat cuci, ada yang mencuci, ada yang membereskan meja, dan seterusnya.

Mungkin awalnya agak sulit. Jika prosedur ini sudah menjadi kebiasaan yang diterapkan di rumah, orangtua bisa lebih lega. Saat anak lupa, kita hanya perlu berkata, "Prosedur... .," maka anak kita sudah tahu apa yang harus dilakukannya.

Berbeda dengan rules. Rules adalah peraturan. Kalau peraturan dilanggar, ada sanksinya. Anak-anak kecil umumnya tidak perlu diberi peraturan. Karena, jika mereka sudah mengikuti prosedur dengan baik, tidak ada lagi yang bersifat peraturan. Bagi remaja, kita perlu memberi peraturan jam malam, misalnya. Atau aturan main game dibatasi 1-2 jam, dan seterusnya. Kalau dilanggar, beritahukan sanksinya kepada mereka. Tanpa omelan, jika remaja kita melanggar peraturan, terapkanlah sanksi untuk mereka.

Kalau Anda mengalami kesulitan dalam mendisiplinkan anak, pelajarilah psikologi perkembangan anak, cari bantuan konselor keluarga. Juga ikuti kelas-kelas parenting seperti yang kami lakukan kepada ribuan orangtua. Akhirnya, berikanlah lebih banyak waktu kepada mereka. (*)

Roswitha dan Julianto Simanjuntak
*) Julianto Simanjuntak dan Roswitha adalah pendiri dan ketua Layanan Konseling Keluarga dan Karier (LK3). Penulis buku laris Seni Merayakan Hidup Yang Sulit. Bisa dihubungi di tel: (021) 5565 8224 dan 5608477. HP.081932123738. Website : www.lk3web.info. Rutin mengasuh Institut Konseling & Parenting Terapan LK3 di pelbagai kota secara tatap muka maupun Jarak Jauh, belajar ratusan tema parenting dan konseling. Motto: Orang Bijak Peduli Konseling.

No comments: