Motor di Jakarta adalah kelas dua! Itulah yang aku perhatikan setelah beberapa kali mengunjungi mal dan gedung di Jakarta menggunakan motor. Tak ada tempat parkir yang nyaman selama pengalamanku memarkir "KilMer"-ku. Eh, KilMer maksudnya Kilat Merah alias Red Thunder alias Suzuki Thunder.
Kesadaran akan tempat parkir motor itu menyentak kala aku parkir di Carefour Lebakbulus. Ini kali pertama aku membawa KilMer-ku ke sini. Kesan pertama sih oke juga. Terlindung dan dekat pintu masuk lagi! Mencarinya tidak susah pula. Jauh dibandingkan parkir di Setiabudhi Building Kuningan yang di luar area perkantoran dan cuma di pinggir jalan plus di atas trotoar. Juga masih bagusan dibandingkan dengan Plaza Senayan yang mesti berkelok-kelok turun ke basement, mirip dengan parkiran di Pusat Grosir Cililitan.
Waktu itu hari Jumat sekitar pukul 16.30. Waktu memasuki lokasi parkiran masih terlihat banyak tempat kosong. Namun melihat ada satu dua motor yang parkirnya di gang masuk atau keluar sehingga membuat akses lalu lalang motor terhambat, aku langsung berpikir bahwa luas lahan parkir masih jauh dari ideal. Makanya aku parkir di tempat yang sekiranya agak mudah saat mau keluar. Setelah dapat, langsung aku menuju Carefour.
Rencana mau ketemu teman batal sebab aku lupa konfirmasi bahwa pertemuan jadi. Yah, gara-gara didera kesibukan jadi lupa menelepon buat konfirmasi pertemuan jadi. Teman saya kaget ketika aku memberi tahu sudah ada di Carefour.
"Wah, aku masih di rumah. Kamu enggak konfirmasi tadi. Ya sudah, diatur lagi deh jadwalnya. Paling tempat dan waktu tidak jauh beda dari yang sekarang kok," suara teman di ujung sana menerobos melalui Samsung CDMA-ku.
Mau apa lagi? Akhirnya aku jalan-jalan ke Carefour. Pertama aku lihat di counter ponsel. Rencana sih pingin ganti, cuma Mbak Dana masih manyun terus. Entah sampai kapan ia bisa tersenyum - paling tidak - kepadaku. Apalagi kalau ngakak, wah senengnya aku. Bisa-bisa bukan hanya ponsel, notebook impian pun langsung menghuni tas backpack-ku. Eh, la kok malah ngoyoworo to?
Begitulah, akhirnya aku beli perlengkapan akuarium buat anakku yang lagi seneng memelihara ikan dan pernik-pernik buat bikin benar pintu. Lumayan juga cuci mataku sore itu. Aku pun langsung menuju kasir dan buang diri dari Carefour.
Nah, benar 'kan?
Begitu tiba di parkiran motor mataku langsung pusing. Aduh, bagaimana bisa keluar motorku? Dalam kondisi seperti itu aku kemudian berpikir alangkah enaknya membawa sepeda. Tinggal angkat beres deh. Meski ada yang bilang Thunderku cungkring (maklum, Mbak Dana baru bisa ngasih yang begituan), tetap saja aku terlalu keberatan untuk bermanuver di tempat yang sesempit itu. Sebelumnya di belakang motorku masih ada ruang yang lega untuk memaju mundurkan motor sebelum aku masuk gang menuju arah keluar. Tapi ... saat itu di belakang motorku ngejogrok motor yang sepertinya asal ditinggal sambil menyisakan ruang untuk lalu lalang orang.
Setelah bersusah payah akhirnya aku bisa bernapas lega. Keringat yang mengalir deras di balik jaket sepertinya menjerit-jerit sebab sebentar lagi ia pasti akan lenyap tersapu angin. Ah, leganya. Kapan ya ada tempat parkir yang nyaman dan enak? Aku jadi rindu akan tempat parkir di Malioboro. Meski di atas trotoar dan tidak terlindungi, namun petugas di sana masih ramah dan mau membantu baik mengeluarkan motor atau dengan menutupi jok motor menggunakan karton.
Eh, buru-buru aku ingat omongan teman: Murah ingin selamat! Hehehe.... iya ya, tadi aku parkir di Carefour kan gratis.
Ah, sudahlah, yang jelas kini aku semakin menyadari bahwa motor di Jakarta keberadaannya tidak dilirik pengusaha mal atau kantor.
No comments:
Post a Comment