Tuesday, August 01, 2006

Bukan Besarnya, Tapi Caranya

Pagi-pagi aku sudah di-buzz sama temanku. Teman lama, tapi masih sering ketemu lewat Y! Messenger. Obrol punya cerita teman saya ini lagi pusing akibat tercekik cicilan.
"Setiap bulan mesti nyicil rumah, mobil, dan motor. Uang gajian hanya lewat
saja. Pusing aku! Belum dengan biaya tak terduga dan tagihan kartu kredit!"
keluhnya dalam chatting.

Saya pun membalasnya dengan tanya ini itu. Sepengetahuan saya teman saya ini termasuk agak ceroboh dalam mengelola keuangannya. O, ya sekarang tinggalnya di Tangerang dan entah pekerjaan yang keberapa sekarang ini. Saya kadang heran dan bingung. Sementara saya masih bertahan di tempat yang sekarang, ia sudah berkali-kali mengirim email ke saya mengenai perubahan tempat kerjanya. Istrinya kerja, dan dikaruniai dua putra yang sudah menginjak bangku sekolah. Kalau tidak salah dua-duanya SD. Dengan dua pemasukan, saya pun memastikan bahwa take home pay yang dibawa pulang lebih dari yang aku peroleh.

Mengenai cicilan rumah saya baru mengerti bahwa ternyata dulu ia menjual rumah lamanya dan membeli rumah yang baru (masih satu komplek sih, tapi lebih besar). Nah, berhubung kurang ia pun meminjam uang di bank. Sebenarnya bagus juga sih sebab rumah yang lama saya perhatikan tidak mengakomodasi kebutuhan anggota keluarganya. Sayangnya, rumah baru ini belumlah sreg menurut dia. Maka renovasi sana-sini pun ia lakoni. Ia membikin lantai dua yang diisi dengan ruang keluarga dan dua kamar. Saya ingat, renovasi ini dilakukan berbarengan dengan saya membangun rumah. Waktu kenaikan harga bahan bangunan akibat naiknya BBM kita sama-sama menggerutu. (Ah, jadi sedih aku. Gara-gara terkereknya harga beberapa bahan bangunan itu aku tidak sempat menyelesaikan pembangunan rumahku. Kini, setahun sudah rumahku aku tinggali namun masih berantakan.)

Cicilan mobil membuat saya tahu bahwa teman saya sudah ganti. Dulu sempat rerasan sih mau menjual mobil lamanya. Bahkan aku ikut membantu menawarkan ke beberapa teman saya. Termasuk memotret mobilnya, siapa tahu ada yang tanya foto. Nah, mobil barunya tentu membutuhkan dana yang banyak. Bahkan ia nombok tiga kali lipat! Saya tidak tanya berapa banyak ia harus meminjam uang kembali.

Terakhir, cicilan motor. Ini juga berbarengan dengan saya mengambil motor. Gara-garanya - lagi-lagi - naiknya BBM yang gak tanggung-tanggung. Ke kantor menggunakan mobil sudah tidak masuk hitungan. Itu alasanku sehingga terpaksa mengambil kredit motor. Alasan lain, menghemat waktu sebab dengan motor jarak kantor - rumah bisa saya tempuh di bawah 1 jam. Pakai mobil bisa dua kali lipatnya. Teman saya juga begitu. Cuma ia mengambil tenor kredit 1 tahun sedangkan saya 2,5 tahun. Memang, totalnya lebih murah yang 1 tahun tapi bulanannya cukup menguras kantong juga. Aku sih cuek saja bahwa total angsuran lumayan juga jika dikonversikan ke gadget impianku hehe.... Tapi kalau ngoyo mengejar 1 tahun tapi selama setahun keuangan morat-marit enggak lah!

Nah, begitulah. Akumulasi tiga cicilan dan biaya tak terduga membuat teman saya pusing mengelola keuangannya. Padahal, dulu saya sudah bilang kepadanya untuk membatasi cicilan maksimal 30% dari pendapatan kita. Kalau sudah melebihi 50% kita akan kerepotan sendiri. Dengan menganggarkan 30%, maka masih ada ruang tersisa untuk biaya tak terduga. Saya juga memberi tahu untuk menabung di awal, berapa pun jumlahnya. Tapi terus terang, soal ini sulit dilaksanakan, terutama oleh diriku sendiri hehe. Bisa sih begitu dapat gaji langsung disisihkan. Namun, di akhir bulan terkadang harus diambil lagi hehe.... Berarti memang tidak ada yang ditabung atau harus memangkas kebutuhan lain.
"Wah, kalau 30%, jika pendapatan 10 juta, cuma bisa nyicil 3 juta dong.
Waduh, kalo begitu aku harus jadi GM nih ..." canda temanku yang termasuk
manajer madya ini.

Saya pun teringat omongan teman yang jadi perencana keuangan. Dia bilang, sebenarnya bukan soal besarnya yang membuat orang sehat keuangan, tapi lebih ke cara mengelolanya. Ia pun memberi contoh klien yang pernah ditanganinya. Ada manajer berpenghasilan Rp 30 juta tapi tidak memiliki apa-apa. Maksudnya tabungan atau investasi lain yang bisa diuangkan segera jika ia butuh uang cepat. Di sisi lain ia memiliki tagihan yang sudah parah. Sementara ada juga yang berpenghasilan cuma Rp 5 juta tapi tidak memiliki cicilan, rumah milik sendiri, anak sekolah di universitas ternama, dan sedikit tabungan.

Semua berpulang ke masing-masing orang bagaimana mengelola penghasilannya.

No comments: