Pagi tadi, berhubung mau mengurus perpanjangan STNK saya ke Cimanggis, ke rumah saudara istri saya. Dulunya saya tinggal di komplek yang sama dan masih memegang KTP sana. Berhubung surat-surat yang berhubungan dengan domisili masih menggunakan alamat di sana, maka saya menunda dulu untuk memutasikan semua surat-surat tersebut. Saya paling males berurusan dengan birokrasi. Untuk itu, meski tinggal di Condet tapi saya memegang KTP Cimanggis. Habis, untuk mengurus perpindahan seperti itu, di Indonesia urusannya bisa memusingkan. Apalagi ini STNK mobil, wah pasti berhubungan dengan Mbak Dana yang fresh dan centil!
Sehabis mengantar Bagas sekolah di St. Markus Cililitan, saya segera melarikan KilMer-ku menerobos Jl. Raya Bogor Kramatjati yang kala itu masih dipenuhi pedagang ikan. Hampir di semua lapak aku melihat kepala-kepala ikan tergeletak di atas aspal yang basah akibat air cucian ikan biar terlihat segar. Jalan ini hampir dipastikan selalu macet tiap waktu. Pagi disesaki pedagang ikan, siang sedikit kegiatan di Kramat Jati Indah dan toko-toko di pinggir jalan plus ngetemnya angkot. Heran aku, jalan sesempit ini dilalui banyak angkot. Ada 07 (Condet - Cililitan), M28, 06, 06A yang mengarah ke Kampung Melayu, 03 ke Centex (kalau enggak salah), M11 (Cililitan - Mekarsari), belum bis-bis PPD. Sebenarnya ada Kopaja T57 jurusan Kp Rambutan - Blok M tapi rutenya pindah jadi Cililitan - Blok M. Eh, ngelantur jadinya.
Sesampai di rumah saudara aku langsung menyerahkan berkas-berkas dan pamit berangkat kerja. Jadi serasa nostalgia melewati jalur yang dulu aku lewati, juga untuk mengantar Bagas sekolah di Slamet Riyadi Cijantung dan langsung berangkat kerja. Jalanan pagi itu lancar jaya sampai akhirnya aku tercenung di depan KPAD Cijantung (Jalan Kesehatan). Dulu memang jalur ini macet di pagi hari sebab menjadi jalur alternatif menghindari kemacetan akibat pembangunan jalan layang Pasarrebo. Namun semenjak jalan layang beroperasi, jalan ini relatif tak terkena kemacetan. Apalagi kalau mengendarai motor.
Antrian kemacetan sudah mulai terjadi di depan Gereja Laharoi. Selewat jembatan yang melintas jalan tol outer ring road Jakarta, antrian benar-benar macet. Termasuk motor. Jalan yang lebarnya sekitar 6 m itu pun jadi tempat parkir mobil dan motor yang amburadul. Soalnya beberapa mobil yang mau mengarah ke Jl. Tb Simatupang banyak yang berbalik arah. Sebenarnya saya juga pingin balik arah, tapi penasaran saja. Lagi pula motor kan bisa nyelap-nyelip hehe....
Pelan tapi pasti akhirnya aku maju. Akhirnya tahu juga aku penyebab kemacetan. Di depan lapak penjual asesori motor, sebuah truk terperosok. Baru ngeh apa penyebab terperosok setelah melihat tumpukan semen di depan lapak yang belum buka. Weleh-weleh ... ini sopir apa tidak tanggap ya? Jalan sempit begini kok ya nekat. Mungkin karena berpapasan dengan mobil yang mengambil jalur agak tengah berhubung ada motor di parkir, sopir truk membuang setir ke kiri. Roda depan aman melintas cor-coran sementara roda depan yang terbebani oleh puluhan (atau bahkan sampai seratusan?) semen terpaksa harus berhenti.
Saya jadi berpikir, apa sekarang ini tidak ada lagi peraturan bahwa jalan "ini" hanya boleh dilintasi mobil "ini" saja, sedangkan mobil "itu" harus lewat jalan yang kelasnya lebih tinggi. Bisa jadi sudah ada peraturannya, cuma ya kembali ke penegakan hukum dan kedisiplinan kita. Kalau sudah tahu dan disiplin, tentu tidak akan lewat jalan tersebut meski tidak ada polisi.
Ah, kapan negara ini bisa keluar dari krisis kalau perilaku di jalan masih seperti itu ya?
No comments:
Post a Comment